Tidak mudah menghilangkan persepsi yang sudah terlanjur menjadi pembenaran. Apalagi persepsi yang tidak disertai pengalaman akurat berupa keberanian untuk mencoba. Maka yang terjadi adalah pembunuhan pemikiran secara perlahan.

Sebagai seorang pendidik, membongkar hal/kebiasaan lama (kayak iklan kopi :D) dan mengenalkan hal/kebiasaan baru kepada anak, tentu tidaklah mudah. Seperti mengenalkan Sistem operasi Linux sebagai pengganti sistem operasi Windows yang sudah bertahun-tahun digunakan, pasti membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak sebentar.

Kita harus mencari cara / strategi yang menarik dan menyenangkan untuk merebut hati siswa dengan memberikan alasan yang rasional serta analogi-analogi yang sesuai untuk menyadarkan mereka tentang pentingnya beralih ke sebuah beradaban di mana kebebasan berkarya, tanpa intervensi berpikir dan mengekspresikan apa yang ada di pikiran menggunakan pengetahuan untuk mengembangkan sebuah sistem, adalah hal yang penting!

Sebuah survey kecil yang saya lakukan terhadap siswa saya, SMK kelas X TKJ sebelum memberikan materi pelajaran Instalasi Sistem Operasi Dasar, untuk menguji pengetahuan dan animo siswa tentang pengetahuan dan ketertarikan siswa dalam menggunakan software open source ini, menyatakan bahwa hampir 80% siswa mengetahui adanya software open source, dan 20% saja yang belum mengetahui.

Namun demikian, 100%  siswa belum pernah menggunakan software open source, meski 90% dari mereka pernah mengoperasikan sebuah software komputer (ketika di SMP).

Mengacu pada survey kecil di atas, memang sejatinya, pengenalan dan penggunaan sistem operasi dan software berbasis open source dilakukan sejak dini, ketika mereka baru pertama kali kita kenalkan pada komputer (terutama sistem operasi). Sehingga mereka terbiasa menggunakan software open source, dan tidak memiliki pilihan menggunakan software berbayar, apalagi software bajakan.


Namun yang terjadi tidak demikian. Perkenalan pertama antara siswa dan teknologi komputer selalu didahului dengan pengenalan sistem operasi berbayar, seperti Windows.  Sehingga secara tidak sadar mereka dituntun untuk menjadi pengguna software ini, tanpa memiliki alternatif pilihan.

Dan, terkadang kita sendiri pun, tanpa kita sadari karena alasan ‘keterbatasa dana’, akhirnya menjadi ‘penikmat’ software-software bajakan 🙁 dan belum bisa sepenuhnya terlepas dari software-software tersebut. Hal ini dinyatakan oleh Bussines Software Alliance (BSA), bahwa Indonesia menjadi negara di urutan ke-2 sebagai negara dengan tingkat pembajakan tertinggi di dunia, 86%, dengan kerugian USD 1,467 miliar, setelah Venezuela ( 88%, Kerugian USD 668 juta). (Sumber Detik.com, 15/02/2012).

Yah, betapapun pahitnya, itulah kenyataannya… Padahal mestinya karena alasan “keterbatasan dana” itu pula-lah, kita seharusnya menjadikan free software sebagai satu-satunya pilihan!

Menjadi tanggung jawab seorang guru sebagai pendidik, terutama guru komputer, untuk memandu generasi penerus dalam menggunakan dan mengembangkan free open source, yang akan melahirkan para jagoan open source, terutama Linux, sehingga kedepan bisa menjadi pengembang Linux yang menciptakan turunan – turunan Linux baru,  dan akhirnya penggunaan sistem operasi dan software aplikasi Ilegal akan semakin berkurang.

Maka ketika saya tanyakan kepada anak didik saya Apakah mereka siap melepas belenggu software bajakan dan beralih pada software open source ? Serentak mereka manjawab, “SIAP!”.  Alhamdulillah…

Ayo! Bongkar kebiasaan lama, orang Indonesia (harus) pake Open Source!

Gambar dibuat oleh :  Adhicipta R Wirawan