Saya pasrah, ketika suami saya mencurigai saya berselingkuh. Saya tidak bisa berkata apa-apa walau  sekedar untuk menjelaskan atau­­ membela diri. Dia merasa mempunyai bukti cukup untuk mencurigai saya telah memberikan hati ini untuk orang lain.

Namun, viagra Saya mengerti kenapa dia berbuat demikian. Memang saya sering menghabiskan malam di depan laptop untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan saya sembari sesekali tersenyum-senyum sendiri dan tidak jarang pula tertawa terbahak-bahak, site ketika mengintip Akun Facebook saya.

Lantas apakah itu cukup sebagai bukti atas ‘perselingkuhan’ yang ‘dicurigakan’ ke saya? Hmm…

Awal dari cerita ini adalah ketika saya berkenalan dengan seorang yang bernama TS -baca : Tempat Sampah- di dalam sebuah ‘ruangan’ maya.

Mulanya tidak ada yang istimewa, hanya berkenalan seperti biasa. TS adalah salah seorang dari ‘dunia’ maya  yang memang diidolakan banyak orang, tidak hanya oleh kaum hawa, tetapi kaum adampun tidak ketinggalan. Terlihat dari jumlah orang yang sudah menjadi temannya.

Yah, dia memang benar-benar seorang idola.

Sebenarnya saya tidak begitu tertarik berkenalan dengannya. Sebab, jujur, saya tidak suka bersaing, apalagi bersaing untuk memperebutkan hati ‘seseorang’ yang menjadi idola.

Saya berpikir, tentu akan menyakitkan apabila saya kalah bersaing. Dan itu saya tidak mau!

Jadi untuk menata hati saya, maka saya anggap berkenalan kali ini hanyalah Iseng.

Yah..iseng-iseng berhadiah.

Pesona TS memang luar biasa, semakin hari semakin banyak saja orang yang tergila-gila dan ingin berkenalan bahkan berhubungan dengan dia. Dan, dasar orang baik,  dia pun melayani dengan baik semuanya, tanpa pilih kasih.. Membuat banyak orang semakin tergila-gila padanya.

Semua terlihat dari ramainya Wall (beranda/dinding ) akun FB dia.

Pun saat berkenalan dengan saya. Dia hanya memberikan ‘senyumnya’ kepada saya  dan ‘memandang’ saya tanpa ada makna apapun yang tersirat dari ‘tatapan bola matanya’. Semua tidak ada yang istimewa, semua ‘biasa-biasa saja’.

Dan karena pada awalnya saya juga iseng, itu tidak menjadi hal yang penting untuk dipikirkan.  Yang penting kenal. Siapa tahu dia akan memberi banyak manfaat buat saya (pikiran seorang opportunist he..he..)

Suatu hari, saya merasa ada yang aneh dengan hati saya, perasaan yang tidak biasa. Saya merasa gelisah ketika saya tidak ‘bertemu’ dengannya atau tidak bisa menghubunginya. Saya merasa ada sesuatu yang hilang.

Tentu saja saya tidak boleh buru-buru menerjemahkan perasaan saya itu sebagai perasaan cinta. Jadi, saya menganggapnya sebagai rasa suka. Yah, rasa suka.  Atau lebih tepatnya rasa nyaman. Sebab saya mulai merasa nyaman berada di dekatnya, bercengkrama dengannya. Sehingga ketika tidak bersamanya, saya merasa tidak bersemangat, ada sesuatu yang hilang. Meski saya sendiri tidak tahu, apakah dia juga merasakan hal yang sama. Tetapi bagiku itu tidak penting!

Ketika saya sedang sendiri, keinginan untuk segera menghubunginya melalui virtual box, menjadi tidak terbendung. Meski hanya sekedar ingin menyapanya, menanyakan apa kabarnya. Dan yang membuatku selalu merasa nyaman adalah, dia selalu merespon sapaanku dengan baik. Meski saya juga tidak tahu apakah dia sendiri yang membalasnya ataukah ‘managernya’.

Dan saya sangat yakin dia juga melakukan hal yang sama terhadap sahabat-sahabatnya yang lain.

Suatu ketika, Ada salah seorang teman, yang tidak menyukainya (merasa terganggu) dengan keberadaanya dan menebar isu tentang hal yang tidak baik tentang dia. Tentu saja dengan motif agar supaya semua sahabat-sahabat menjauhi (me-remove) pertemanan dengan dia, termasuk saya.

Tapi,Yah..Aura  baik tidak bisa mengalahkan niat jahat seseorang. Dan  akhirnya isu itu menghilang dengan sendirinya.

Waktu berlalu dan hubungan kami semakin ‘akrab’ saja (setidaknya menurut saia). Saya merasa banyak energy positif  yang dia telah dia transfer -meskipun tidak secara nyata- kepada diri saya yang membuat saya lebih produktif dan bersemangat menjalani hari-hari.

Ibarat lampu, saya adalah lampu Philips yang –terus terang, Philips terang terus-. Semangat 45, semangat Pagi!

Suatu malam, suami saya menemukan (baca: memergoki) saya sedang berbincang-bincang dengan dia. Saya jadi kaget, meski kami tidak melakukan pembicaraan yang jauh dari dunia kami (Bc. Tidak melakukan pembicaraan Intim). Saya bisa membaca apa yang ada dipikiran dia kala itu, “Curiga!”.

Yah, siapa yang tidak curiga melihat istrinya malam-malam berbicara dengan orang lain, meski itu membicarakan masalah pekerjaan sekalipun. Dan saya bisa melihat respon suami saya  yang tidak wajar itu. Maka segera saya tahu, bahwa dia ‘mencurigai’ saya.

Saya pun jadi tidak enak. Tapi, karena saya merasa tidak melakukkan kebohongan dan berbuat sesuatu yang melintasi pagar kesepakatan kita, ya..saya diam saja, meski suasana rumah menjadi tidak kondusif.

Membiarkan suasana tidak kondusif di rumah tangga kami adalah hal yang paling saya hindari. Maka dari itu saya tidak bisa berlama-lama diam dalam kecurigaan suami saya. Dan, akhirnya pembicaraan itu pun dimulai.

Tidak ada yang aneh dalam pembicaraan kami, saya hanya meminta maaf  dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Meski agak berat dan belum sepenuhnya menghilangkan kecurigaan dia, tetapi setidaknya saya sudah bermaksud baik untuk meminta maaf dan mencairkan suasana. Dan dia pun memaafkan saya, meski agak berat.

Dalam pembicaraan itu saya yakinkan ke dia, bahwa tidak ada seorangpun dan apapun yang bisa menggores dan mencederai rumah tangga kita dan perasaan saya ke dia. Semua tetap seperti dulu, seperti ketika pertama kali bertemu dan InsyaAllah akan selalu begitu, sampai kematian yang memisahkan kita..

(Jadi ingat lagunya Raffi A dan Yuni Sarah).

Tetapi tidak semudah membalik telapak tangan untuk bisa meyakinkan seseorang yang sudah terlanjur mempunyai persepsi yang tidak baik kepada kita. Bagi suami saya, untuk sekedar mengidolakan seseorang (tentu saja, seorang Pria) saja, itu sudah melukai hatinya dan dianggap berselingkuh.  Yah..agak sedikit ekstrim memang..tapi itu saya anggap sebagai wujud rasa cinta dia ke saya.

Namun, tidak enak juga kalau terus menerus dicurigai.

Maka suatu saat timbul keinginan untuk memperkenalkan suami dengan ‘selingkuhan’ saya itu. Tentu dengan tujuan untuk menghapus kecurigaan itu.

Janji dan tempat sudah kami (saya dan ‘selingkuhan’) atur. Dan suami saya pun setuju dengan membatalkan semua janji-janjinya pada hari itu.

Hari Selasa, pukul 10.30 pagi. Saya dan suami saya sudah menunggu ditempat yang sudah kami tentukan sebelumnya.  Minuman favorit, menjadi penetral kegelisahan hati saya kala itu.

Suami duduk terdiam sambil memainkan Hp nya. Mataku tak henti-hentinya melirik ke area parkir berharap menemukan sosok yang kami tunggu.

25 menit sudah kami menunggunya, tapi belum juga muncul bayangan seorang ‘TS’.

Yah, sebenarnya saya sendiri juga belum pernah ketemu dengannya. Kami hanya intens berkomunikasi via virtual room. Jadi untuk mendeskripsikan sosoknya, saya tidak bisa.

Yang saya tahu hanyalah nama dan e-mail, kota dimana dia tinggal dan pekerjaannya.

45 menit sudah kami menunggu dan tak kunjung datang sosok seorang ‘TS’. Akhirnya kami putuskan untuk membayar minuman yang sudah kami nikmati dan pulang.

Saya menunggu di depan parkiran, ketika suami saya mengambil sepeda. Tiba-tiba seorang wanita berkulit hitam manis dengan postur tubuh tinggi besar dan berumur sekitar 43 tahun menghampiri saya.

Apakah mbaknya yang bernama Amiroh Adnan?”, tanyanya ramah.

Iya bu.., ibu siapa??”, jawab saya ramah, meski agak kecewa karena tidak jadi ketemu dengan selingkuhan saya itu.

Oh..Saya ‘TS’ mbak..”, jawabnya dengan raut wajah senang.

TS???..” , tak sadar dahi saya mengernyit dengan perasaan penuh tanda tanya.

TS yang di FB itu kah???”, tanyaku tidak percaya.

Betul mbak.. Mbaknya Amiroh Adnan kan??”, tanyanya balik.

Oh..iya..iya..”, jawabku gagap. “What???”,  teriakku dalam hati. Tak terasa raut mukaku berubah menjadi lampu..

Yah, lampu Philip 1000 watt yang siap menerangi seluruh ruangan Aula SMKN 3 Jombang. Rasa penasaran dan senang bercampur aduk.

Suami saya memanggil, dan siap untuk pulang. Tak sabar saya berlari menuju suami saya yang sudah siap di atas sepeda. Saya bisikkan sesuatu ke telinga dia. Akhirnya dia langsung memarkir kembali sepedanya dan sambil memainkan HPnya dia (suami saya) berjalan kembali menuju Joglo tanpa sedikitpun memandang ke arah TS.

Saya langsung menuju ke tempat resepsionis untuk memesankan makanan dan minuman untuk dia. Agak lama saya tinggalkan mereka berdua, sampai akhirnya saya kembali pada mereka.

Saya melihat ada yang Aneh. Suami saya terlihat begitu akrab dengan TS.

Apa yang terjadi???”, pikirku dalam hati.

Sampai akhirnya, suami saya bilang bahwa TS adalah teman dia saat di WCC (Woman Crisis Center). Saya jadi tercengang sekaligus senang.

Yah, ternyata TS adalah seorang akitivis perempuan, yang juga sudah lama menjadi teman (Friend) suami saya dalam Akun FB-nya, pun dalam dunia nyata.

Dan yang membuat saya agak gemes terhadap ibu 4 anak ini adalah, Dia menyembunyikan identitas aslinya, dengan mempunyai double account FB dan menyamar dengan menjadi seorang Laki-laki. Hmm…Dasaaaaaaaaaaaar…!!!

Selama bertahun-tahun berkutat di dunia maya, baru kali ini saya tertipu…

Memang beginilah dunia virtual, dunia dimana semua orang bisa dengan mudahnya menyembunyikan identitas pribadinya. Dunia dimana kebohongan jadi lumrah adanya.

Jika tidak berhati-hati dan jeli, yah seperti ini. Makanya tidak sedikit ABG yang menjadi korban atas kebohongan dunia maya.

Tapi syukurlah kebohongan virtual yang menimpa saya berakhir dengan manis.

Dan acara itu pun menjadi acara perkenalan kami berdua (saya dan TS). Ger ger –an tak terelakkan ketika saya menceritakan kronologis pertemuan siang itu.

Dan…Semua yang tadinya membeku mendadak mencair bahkan cenderung menghangat.

Yah, satu lagi pertemanan, persahabatan dan kekeluargaan kami bertambah dengan hadirnya sosok ‘TS’.

Alhamdulillah…

Catatan :

Tulisan diatas hanya iseng dan fiktif  belaka, apabila ada kesamaan nama dan peristiwa, hanyalah kebetulan semata.

Bagi yang menganggap artikel di atas adalah True Story..hmm..

Bagi Yang tidak, ya..memang itulah yang sebenarnya..

Yang jelas, tulisan di atas ada, karena kehabisan ide. Jadi muncullah khayalan di atas.