Menikmati Sajian Menu PP. 74 Tahun 2008 Untuk Guru

Ibarat meminum segelas jamu gendong temulawak setiap hari.  Meski pahit rasanya, ambulance tetap saja kita harus cari rasa manis yang ada pada setiap tegukannya.

Itulah yang saya rasakan setelah mengamati pelaksanaan PP No.74 tentang guru selama 2 minggu terakhir di SMKN 3 Jombang.  Di mana guru diwajibkan tetap berada di sekolah pada jam-jam kerja, more about baik ketika ada jam mengajar maupun tidak.

Kalau biasanya guru hanya datang ke sekolah ketika ada jam mengajar atau ketika ada acara lain yang menyangkut kedinasan, ask maka  dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, yang ditandangani oleh Presiden Republik Indonesia per tanggal 01 Desember 2008, yang menyatakan bahwa  Beban kerja Guru paling sedikit harus memenuhi 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu pada satu atau lebih satuan pendidikan yang memiliki izin pendirian dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah,  maka mau tidak mau, sekolah dan guru berkewajiban untuk  menerapkan peraturan tersebut.

Di Jombang, sebagian besar sekolah mulai menerapkan peraturan tersebut  pada awal Januari tahun ini. Semua guru (terutama guru PNS,  baik yang sudah sertifikasi  atau non-sertifikasi dan guru swasta yang sudah sertifikasi) yang belum memenuhi ketentuan tersebut, diharuskan mencari  tambahan kekurangan jam tersebut, dengan cara mengajar di sekolah atau madrasah lain baik negeri maupun swasta pada Kabupaten/kota yang sama, sesuai mata pelajaran yang diampu, atau Menjadi Guru Bina/Pamong pada SMP Terbuka, Menjadi Tutor pada program kelompok belajar Paket A, Paket B, dan Paket C.

Bagi beberapa sekolah yang mempunyai jumlah guru sedikit dengan rombel yang besar mungkin tidak terlalu sulit menerapkan peraturan tersebut. Tetapi bagi sekolah-sekolah besar dengan jumlah guru yang banyak akan kesulitan  mendapatkan beban jam wajib 24 jam tatap muka.  Sehingga tidak jarang, guru mengajar pada bidang study tidak sesuai dengan sertifikat ijazahnya, hanya sekedar untuk memenuhi beban wajib tersebut.

Disamping itu mencari tempat mengajar di sekolah lain juga tidaklah mudah. Sebab, sekolah lain pun menghadapi masalah yang sama. Bahkan sekolah swasta pun harus memperlakukan guru mereka sama seperti guru PNS yang harus memenuhi 24 jam pelajaran perminggu.

Artinya tidak semua guru dapat melakukan hal tersebut, apalagi bagi guru yang memang berdasarkan struktur kurikulum jam pelajarannya sedikit misalnya hanya 2 jam pelajaran perminggu, kelebihan formasi guru, serta rombongan belajarnya juga sedikit.

Nah kalau sudah begini, Apakah dengan beban wajb 24 jam tatap muka tersebut lantas akan membuat proses pembelajaran menjadi lebih efektif?

Tentu tidak.. Karena keberhasilan proses pembelajaran tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya jam mengajar seorang guru, tetapi pada sikap profesionalitas seorang guru itu sendiri.

Bukankah beban jam wajib tersebut terutama diperuntukkan bagi guru yang sudah sertifikasi -yang secara logika- sudah bisa dipastikan keprofesionalisannya?

Belum tentu juga, mengingat selama ini sebagian besar ‘gelar’ sertifikasi itu diperoleh melalui portofolio (yang mana kalau tidak lulus cukup diklat beberapa hari saja lalu mendapatkan sertifikat sebagai guru yang professional).  Bukankah sudah menjadi rahasia umum, bahwa untuk memperoleh sertifikat (dengan portofolio) itu tidak semua guru benar-benar melalui / melewati nya secara jujur ? Hm..

Tetapi bagaimanapun juga peraturan tetap harus dijalankan dan dilaksanakan semaksimal mungkin. Difahami dan ditaati secara benar, bukan disiasati supaya enteng bebannya, atau diatur-atur sendiri  agar implementasinya enak, dan bisa menguntungkan diri  sendiri.

Ada baiknya kita mengambil sisi positif dari keberadaan PP tersebut dengan cara memaknai dan memanfaatkan jam – jam kerja tersebut untuk melakukan hal-hal positif yang bisa meningkatkan profesionalisme kita sebagai guru. Seperti menyusun Rencana Pembelajaran, membuat Media Pembelajaran, Membuat Analisis Soal Ujian dan seterusnya.  Sehingga kewajiban kita sebagai pendidik tetap terlaksana dengan baik dan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang baik juga tercapai.

Maka, ketika mendengar keluhan dari banyak teman guru (terutama guru PNS) tentang sosialisasi PP No. 74 tersebut, dimana mereka sekarang tidak lagi bisa dengan leluasa menjalankan aktivitas di luar kedinasan mereka (mengingat  tidak sedikit dari  mereka mempunyai bisnis sampingan) yang rata-rata penghasilan lebih besar dari yang mereka dapatkan dari gaji pokok mereka, membuat saya berpikir, kenapa tidak kita manfaatkan waktu pada jam-jam kerja tersebut untuk melakukan kegiatan-kegiatan di atas atau dengan mengeksplore (menggali) potensi yang kita miliki sehingga menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi diri kita dan karir kita ? Dari pada kita harus “kepontal-pontal”  (kt. Orang jawa) ketika ada “ubrakan” (maaf) untuk mengumpulkan perangkat mengajar, RPP, Analisis Soal dan tetek bengeknya.

Bagi saya secara pribadi, setidaknya ada 3 sisi positif yang  terekam dalam memory internal saya pada pelaksanaan PP tersebut di sekolah saya. Pertama, Frekwensi pertemuan dengan teman seprofesi menjadi lebih intens, sehingga muncul keakraban yang tidak bisa saya jumpai sebelumnya.

Kedua, Semakin tinggi animo guru untuk belajar dan memanfaatkan computer sebagai sarana pembuatan administrasi mengajar dan pembuatan Media Pembelajaran berbasis TIK -katanya dari pada ngobrol ngalor ngidul tidak ada manfaat, meski tidak sedikit pula memanfaatkan waktu dengan bertukar gossip artis-artis ibu kota maupun artis-artis local SMKN 3 Jombang.  Ketiga, terbentuknya acara rutinan yang menjadi aktivitas favorit  saya, yaitu makan-makan, dengan menu yang sudah dibawa oleh masing-masing guru dari rumah, alias bertukar bontotan.

Tentu saja semua kegiatan di atas dilakukan pada waktu – waktu senggang ketika guru sudah tidak ada kewajiban untuk mengajar di kelas.

Jadi, tidak ada gunanya berkeluh kesah tentang  sesuatu hal yang kita sendiri sebenarnya sadar bahwa hal tersebut memang pilihan terbaik yang bisa kita ambil dan laksanakan. Bukankah lebih baik meminum jamu gendong pahit tetapi badan kita tetap bugar, dari pada hanya sambat dan tidak melakukan apa-apa??  Hmm..

You may also like...