Seorang teman kantor mengeluh karena komputernya sudah menjadi lambat. Karena dia hanya seorang pengguna awam, generic dia tidak mengerti apa penyebabnya. Tapi dia sangat merasakan bahwa komputernya semakin lama semakin lambat. Ini sangat mengganggu pekerjaannya. Dan seperti biasa, sistem operasi yang digunakan adalah Windows.

Apakah anda pernah mengalaminya juga? Apa sebenarnya yang menyebabkan Windows menjadi lambat seiring waktu?

Salah satu penyebab menurunnya kecepatan Windows adalah karena file-file di harddisk yang sudah tidak tersusun rapi lagi. Dalam bahasa teknis, file-file dalam hard disk yang sudah tidak tersusun rapi itu disebut mengalami fragmented alias terpecah-pecah. Agar file-file dalam hard disk menjadi rapi kembali, maka hard disk harus di defrag. Defrag adalah kata lain untuk “susun ulang”. Men-defrag hard disk artinya menyusun ulang data yang ada dalam hard disk sehingga menjadi rapi kembali. Dampaknya adalah kecepatan komputer akan kembali normal.

Windows sudah menyediakan aplikasi bawaan untuk proses defrag. Namanya adalah Disk Defragmenter (biasanya ada di Start – Accessories – System Tools). Disk Defragmenter berfungsi untuk menganalisa volume drive dan menata ulang semua file dan folder yang ada di drive yang di defrag. Tujuannya adalah supaya semua file dan folder tersebut dirapikan susunannya sehingga sistem dapat lebih mudah dan cepat saat mengakses file dan folder tersebut. Proses defrag sangat disarankan untuk dilakukan sesering mungkin. Semakin sering, semakin baik. Rata-rata proses defrag disarankan untuk dilakukan minimal sebulan sekali. Selain Disk Defragmenter, di dunia maya juga tersedia banyak aplikasi defrag, yang selain lebih baik daripada bawaan Windows, juga tersedia gratis.

Tetapi, kita harus berhati-hati ketika melakukan proses defrag. Biasanya, sebelum proses defrag dimulai, disarankan untuk menutup semua aplikasi agar hasil defrag maksimal. Ini untuk menghindari munculnya pesan error, seperti: SOME FILE ON THIS VOLUME COULD NOT BE DEFRAGMENTED. Kemudian, pada saat proses defrag sedang berlangsung, tidak boleh ada faktor apapun yang boleh menghentikan proses defrag. Misalnya, mati lampu mendadak atau komputer tiba-tiba restart. Jika proses defrag terhenti tiba-tiba karena mati lampu atau komputer restart, hard disk bisa mengalami kerusakan, yang biasa disebut bad sector, atau bahkan jebol (rusak total). Bukannya memperoleh hard disk yang rapi dan kecepatan komputer kembali normal, kita justru akan kehilangan data dan hard disk menjadi rusak. Anda tidak ingin kejadian buruk seperti ini menimpa anda, bukan?

Sekali lagi, saya ingin memberi kabar baik untuk anda. Tahukah anda bahwa di Linux, anda tidak akan menemukan aplikasi untuk melakukan defrag? Mengapa? Karena di Linux anda memang tidak perlu men-defrag hard disk. Mengapa Windows memerlukan Defrag sementara Linux tidak?

Cara pengelolaan hard disk di Linux yang berbeda dengan Windows lah yang menyebabkan perbedaan menyolok ini. Windows mengelola hard disk dengan menggunakan dua macam format, yaitu FAT dan NTFS. Format FAT digunakan pada Windows 9x ke bawah (termasuk DOS), sedangkan NTFS digunakan pada Windows NT/2000/XP dan versi yang lebih baru. Linux menggunakan format yang berbeda, mulai dari Ext2, meningkat menjadi Ext3, dan kini bahkan sudah menjadi Ext4.

Bahasa teknisnya mungkin terlalu ribet. Namun sebuah ilustrasi yang saya kutip dari internet ini mungkin akan memudahkan anda memahami perbedaan cara mengelola hard disk di Linux dan Windows.

Bayangkanlah harddisk anda sebagai satu lemari data berukuran raksasa dengan jutaan rak. Masing-masing rak memiliki ukuran yang sama dan hanya dapat memuat sejumlah data. Jika ukuran data ternyata lebih besar daripada ukuran rak yang tersedia, maka data harus dipecah-pecah dan disimpan dalam beberapa rak. Beberapa data memiliki ukuran yang sangat besar hingga memerlukan ribuan rak untuk menyimpannya. Karena itu, akan lebih mudah mengaksesnya jika data yang berukuran raksasa itu diletakkan berdekatan dalam lemari.

Sekarang, bayangkanlah anda adalah pemilik lemari data itu, tetapi anda tidak punya cukup waktu untuk mengatur lemari tersebut. Maka, anda membuka lowongan kerja agar ada orang yang bisa mengurusnya. Para pelamar juga anda wajibkan untuk mempresentasikan manajemen pengelolaan rak yang akan mereka terapkan. Pada akhirnya, ada dua orang yang melamar dan sekaligus mempresentasikan manajemen pengelolaan raknya masing-masing.

Pelamar pertama memiliki strategi sebagai berikut: Pada awal rak, dia akan meletakkan sebuah buku catatan yang akan berisi data rak. Kemudian, dia akan mulai meletakkan setiap data pada rak yang kosong secara berurutan, lalu mencatatnya pada buku catatan yang diletakkan di awal rak. Karena setiap hari ada ribuan data yang keluar dan masuk, maka setiap hari selalu saja ada rak yang sebelumnya sudah terisi tapi kini menjadi kosong karena data sudah terhapus atau keluar. Setiap kali ada data yang masuk dan/atau keluar, dia harus meng-update buku catatan yang ada di awal rak itu. Jika ada data baru yang masuk, maka dia akan mencari rak kosong pertama yang dia temukan, lalu meletakkan data tersebut pada rak kosong tersebut, kembali ke awal rak dan mencatat letak rak, jumlah rak, dan jumlah data yang tersimpan pada rak tersebut pada buku catatan di awal rak. Jika data tersebut ternyata ukurannya lebih besar daripada ukuran rak kosong yang tersedia, maka dia akan memecahkan data itu lalu mencari rak kosong berikutnya, dan meletakkan sisa data pada rak kosong berikutnya yang dia temukan. Kemudian dia akan kembali ke awal rak untuk mencatat letak rak, jumlah rak, dan jumlah data yang disimpan pada buku catatan.

Jika rak itu tidak cukup juga, data dipecah kembali dan sisanya akan ditempatkan pada rak kosong berikutnya, sampai seluruh data selesai tersimpan pada rak, dan setiap kali dia memecah data, dia harus selalu mencatat letak rak, jumlah rak, dan jumlah data yang disimpan pada buku catatan.

Dengan segera anda bisa melihat kelemahan manajemen pelamar pertama ini. Jika suatu hari anda membutuhkan suatu data dan ternyata data itu telah dipecah-pecah menjadi beberapa bagian dalam rak-rak yang terpisah, maka akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemukan data itu. Untuk memudahkan anda menemukan data dengan cepat, maka anda harus menyewa beberapa orang lagi untuk merapikan setiap rak dan menyatukan data-data yang terpisah-pisah dalam satu rak yang berdekatan. Semakin sering anda melakukannya, tentu akan semakin baik karena data belum terlalu banyak terpecah-pecah. Bayangkanlah jika data dalam rak itu tidak pernah dirapikan selama berbulan-bulan, sementara data selalu keluar masuk setiap hari.

Oke, bagaimana dengan pelamar kedua? Bersambung.. 😉

Dirangkum dari berbagai sumber: Irfan G, Kompasiana, Google dst