Yang terlintas pertama kali saat menginjakkan kaki di kota ini adalah sepi, seperti kota mati. Tidak banyak, bahkan hampir tidak ada aktivitas apapun baik di jalan raya maupun di jalan/gang tempat saya akan tinggal. Hanya beberapa kendaraan saja yang lewat, yang bisa dihitung dengan jari.

Suasana Lingkungan Gross Gerau

Gros Gerau, daerah kecil yang terletak di Frankfurt selatan, di wilayah negara bagian Hessen, Jerman, saat saya tiba disini sedang musim gugur (13/10). Dimana-mana kami temui dauh-daun berjatuhan, cantik sekali! Kota ini sangat bersih, tenang dan nyaman, karena tidak banyak penduduknya, sangat cocok untuk berkonsentrasi dan belajar.

Suasana Kota Gross Gerau

Yah, saat itu kami datang hari Minggu (13/10), dijemput oleh staf Guesthouse (tempat kami tinggal) bernama Mr. Striebel. Beliaulah yang memandu kami dan mengenalkan tempat-tempat penting di sekitar Guesthouse yang bisa kami kunjungi selama di sini.

Kota Tua Gross Gerau

Di Kota ini, kalau hari minggu memang sepi sekali, hampir tidak ada toko/pusat perbelanjaan yang beroperasi. Beruntung-lah saat itu kami sudah disambut dengan beraneka persediaan makanan dan sedikit sembako seperti roti, beras, minuman jus, apel dan makanan ringan lain yang kira2 cukup kami makan selama 3 hari, sebelum kami bisa menemukan toko untuk belanja sendiri.

Guesthouse Tempat Peserta Pelatihan Tinggal

Guesthouse – tempat kami tinggal, memiliki sekitar 27 kamar yang terdiri atas 3 lantai dan 1 ruang bawah tanah. Layaknya di sebuah asrama, kami menempati kamar pribadi dengan fasilitas sekelas hotel bintang 3 (mirip dengan hotel amaris minus TV, kalau di Indonesia).

Ruangan Lantai 2 Guesthouse

Saat kami tiba, peserta dari Libya telah lebih dahulu menempati tempat ini. Mereka tinggal selama 2 minggu dan menempati kamar2 lantai 1. Saat tulisan ini saya posting mereka sudah checkout dari sini dan berganti dengan peserta pelatihan lain dari Tionghoa (Cina). Maka jadilah kami (peserta dari Indonesia) menempati lantai 2 dengan fasilitas yang tidak beda dengan kamar2 yang lain.

Guesthouse juga menyediakan ruang dapur (lengkap dengan segala peralatannya), loker (untuk menyimpan bahan makanan pribadi, 2 jenis kulkas, tempat sampah terpilah dan ruang makan yang sangat nyaman. Di ruang makan ini, kami biasa makan bersama dan berdiskusi tentang tugas2 kuliah maupun tugas2 dari kementerian (bikin laporan dan modul).

Suasana Ruang Dapur Guesthouse
Ruang Keluarga/Makan Bersama

Selebihnya jika tidak sedang belajar di kampus, kami lebih banyak beraktifitas di kamar, belajar dan sibuk dengan urusan masing2.. (biasanya urusan2 domestik dg keluarga masing2).
Selain itu di lantai bawah juga tersedia ruang laboratorium komputer (jika ingin belajar bersama), ruang nge-gym dan ruang mencuci/setrika baju.

Ruangan Lab Komputer di Guesthouse

Tak jauh dari guesthouse, sekitar 700 meter, terdapat Mini Market tempat kita belanja bahan2 makanan dan keperluan harian lainnya. Di tempat ini, harga bahan2 makan cukup murah, tak beda jauh dengan di Indonesia. Bahkan untuk beberapa makanan & minuman serta buah2an seperti roti, susu, juice dan apel bisa dibilang lebih murah.

Mini Market Penny

Di tempat ini kami juga bisa menukarkan botol2 bekas minuman, yang mana masing2 botol dihargai 0.25 Euro. Cara yang bagus untuk meminimalisir sampah plastik. Di sini sangat sulit mencari kantong plastik. Setiap kali belanja, kami harus membawa kantong belanja sendiri, karena toko tidak menyediakan kantong plastik untuk belanjaan kita. Atau kami harus mengeluarkan uang 0.8 euro untuk sebuah kantong belanja.

Menukar Botol Minuman Bekas

Selain supermarket, masjid dan gereja juga terletak tak jauh dari tempat ini.

Untuk kebutuhan air, kami tidak mengalami kesulitan, karena hampir di setiap saluran air, semua bisa diminum, kecuali yang ada tanda tidak bisa diminum dan itu sangat jarang. So, minum air dari saluran air (kran) bagi kami di sini adalah hal yang biasa.
Beberapa kali saya mencoba untuk merebus air (seperti kebiasaan di rumah), namun ternyata airnya malah berasa jadi aneh.

Persediaan Air Minum di Kampus

Di kota ini saya juga tidak kesulitan untuk mencari makanan berlabel halal, seperti daging ayam/sapi, ikan dst karena tidak jauh dari kampus terdapat supermaket Asian Punjab milik orang timur tengah. Dan yang lebih ok lagi, di sini juga dijual Indomie produk Indonesia. Meski tidak banyak macam2 rasa, namun cukuplah buat pengobat rindu masakan di rumah..hehe.

Yah.. Dalam kurun waktu seminggu, kami biasanya menghabiskan sebagian besar waktu di kampus (Senin-Jumat). Kami berangkat pukul 7.00 dan pulang pukul 14.30. Jarak antara guesthouse dan kampus kira2 1 kilometer yang kami tempuh dengan berjalan kaki.
Pada awal2 masuk kuliah, berjalan 1 km sudah terasa sangat jauh, sampe nafas kami ngos2an bahkan beberapa teman sampe mengalami kaki kram.

Jalan Kaki Menuju Kampus

Namun akhir2 ini kami sudah merasa terbiasa. Durasi jalan kaki yang awalnya kami tempuh 20 menit, sekarang udah bisa berkurang tidak lebih dari 15 menit. Lumayan.. bisa olah raga tiap pagi. Semoga pulang ke Indonesia nantinya.. saya bisa tambah sehat plus langsing..wkwk.

Khusus untuk hari Rabu, kami ada jadwal field trip ke perusahaan-perusahaan yang mana biasanya kami dijemput oleh mini bus di guesthouse dan kembali lagi sebelum jam 14.

Saat weekend (biasanya hari sabtu) selalu kami habiskan dengan jalan2 ke kota2 terdekat, sekedar mencoba naik kereta local atau ke pasar murah (Flohmarkt) untuk melihat2.

Frankfurt Central Station

Flohmarkt ini surganya belanja bagi mereka yang ingin belanja dengan harga yang murah, baik untuk barang baru maupun bekas. Flohmarkt, kalau di Indonesia mirip dengan pasar tumpah, yang tempatnya bisa berpindah2 setiap minggunya.
Seperti Sabtu kemarin (26/10), Flohmarkt digelar di Kota Frankfurt. Maka, saat itu kami sempatkan jalan2 ke sana, sekedar untuk melihat2 sambil menikmati kemegahan kota Frankfurt dengan gedung2 yang unik serta menyusuri tepian sungai Main yang sangat indah.

Sungai Frankfurt An Main

Minggu sebelumnya, kami juga diajak mengunjungi kota tua di daerah Braunfels, Hessen oleh manager Franz Bangert. Di sini kami melihat2 bangunan rakyat jerman jaman dulu dan tak lupa mendokumentasikannya.

Yah, 2 minggu lebih saya tinggal di sini, saya merasa diberi kesempatan untuk beristirahat, refreshing, me-recharge kembali energi setelah sebelumnya bertubi-tubi dihajar persiapan dan seleksi guru berprestasi selama hampir 1 tahun. Alhamdulillah.. saya sangat bersyukur, telah diberi kenikmatan sama gusti Allah, dapat belajar sambil jalan2 melihat belahan dunia yang lain.

Satu hal yang bikin nyesel adalah.. harus jauh dari keluarga!