Lucu saja..melihat gambar para calon legislatif (caleg) yang akhir-akhir ini banyak berjejer di pinggir jalan, adiposity di warung-warung, case di teminal dan tempat umum lainnya.

Hampir di setiap sisi jalan desa/kota terpampang wajah para calon wakil rakyat nan gagah dan ayu, bak model professional, lengkap dengan nama, gelar, motto dan background logo partai pengusungnya.
Tak jarang pula para founder partai ikut tampil pada gambar iklan caleg tersebut, seperti caleg Demokrat menampilkan foto SBY. Caleg Gerindra, bersama foto Prabowo. Caleg dari PDIP menampilkan foto Megawati atau Jokowi. Caleg PKB dengan Khofifah/Gus Dur. Bahkan ada pula caleg yang menampilkan foto alm. mantan Presiden Soeharto.
Yang terakhir ini, mungkin caleg ingin memberi sentuhan Era Orde Baru yang menurut sebagian masyarakat lebih memberikan “kemapanan” dari pada Era Reformasi 🙂

Source: tempo.co

Selain para caleg lokal, para artis ibu kota pun mendadak “pulang kampung” di era kampanye ini. Salah satunya adalah artis dan komedian Eko Patrio yang belakangan ini gambarnya banyak menghiasi jalan sepanjang Mojokerto – Jombang.
Meski dalam balihonya tertulis “Pulang Kampung Bangun Kampung”, namun saya sendiri belum pernah mendengar kedatangannya artis ini di daerah saya. Atau, mungkin hanya gambarnya saja yang pulang kampung untuk kampanye 😀


Memasang gambar caleg di tempat-tempat umum, saat ini memang “seakan” menjadi satu-satunya pilihan para caleg untuk berkampanye, mengenalkan diri kepada calon pemilihnya, mengenalkan motto dan visi misinya, menyampaikan janji-janji manisnya. Meski seringkali segala motto/visi misi tersebut bukan berasal dari hati nurani caleg yang bersangkutan, melainkan ide kreatif percetakan yang menggadakan iklan bannernya 😀

Cara ini biasanya juga dilanjutkan dengan memberi “bantuan” kepada calon pemilih, seperti membagikan souvenir berupa pernak-pernik partai, kaos/buku/stiker bergambar caleg-nya, bahkan ada pula yang disertai dengan bagi-bagi materi berupa uang atau sembako.

Source: kaosperadapan.com

Membagi-bagikan uang kepada calon pemilih oleh sebagian caleg, memang telah menjadi rahasia umum. Beberapa caleg melakukan cara ini dengan tujuan untuk meraih suara dan simpati masyarakat. Cara mereka pun berbeda-beda, ada yang membagikan uang secara pra bayar, ada pula yang pasca bayar. Mirip dengan ketika kita membeli paketan kartu seluler.

Pada pra bayar, biasanya para tim sukses caleg mendatangi rumah calon pemilih, mendata dan memastikan bahwa pemilik rumah akan memilih calegnya dengan memberikan “ongkos jadi” berupa lembaran uang Rp.20.000 atau paling banyak Rp. 50.000. Cara pra bayar ini biasanya dilakukan oleh beberapa calon legislatif yang mempunyai modal besar.

Rumah saya, 2 bulan yang lalu didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai tim sukses seorang caleg. Dalam paparannya, dia banyak menjelaskan track record caleg tersebut, yang ujung-ujungnya meminta saya untuk bersedia memilihnya pada tanggal 9 April besok.
Sebagai tuan rumah yang menghormati tamunya, saya pun mengiyakan serta mendoakan semoga caleg tersebut dapat terpilih. Namun saya tidak menyangka, kalau dia juga berjanji akan memberi saya “sesuatu” menjelang hari H coblosan nanti.
Saya terkejut mendengarnya.. speechless dan hanya bisa cengar-cengir, tak kuasa menolaknya, meski “bantuan” itu belum nyata adanya.

Berbeda dengan pra bayar, pada pasca bayar, pembagian dana kampanye dilakukan ketika si caleg sudah positif terpilih menjadi anggota dewan. Cara ini biasanya dilakukan oleh beberapa caleg yang minim modal, atau caleg yang mempunyai modal tetapi tidak mau rugi. Para caleg ini tidak mau dipusingkan dengan urusan dana kampanye alias “tahu beres” aja. Mereka tidak mau tahu bagaimana cara tim suksesnya menggaet calon pemilihnya.
Caleg demikian biasanya ikut nyaleg hanya untuk iseng saja. Yah.. iseng-iseng berhadiah! Apabila terpilih..ya alhamdulillah, kalau tidak terpilih ya nothing to lose!

Seminggu yang lalu saya ngobrol-ngobrol dengan teman yang saat ini juga sedang nyaleg. Panjang lebar dia bercerita tentang aktivitasnya di minggu kampanye ini. Jujur, awalnya saya agak nggumun (bc.takjub) dengan keberanian dia mencalonkan diri sebagai caleg, mengingat tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan untuk kepentingan ini. Sedangkan kondisi ekonomi dia sedang tidak bagus.

Namun saya baru ngeh saat dia bilang bahwa dalam pencalonannya, semua kebutuhan dana kampanye dibiayai oleh tim suksesnya dengan perjanjian fifty-fifty, artinya jika caleg lolos, maka gaji yang diterimanya kelak akan dibagi 2 dengan tim suksesnya. Hm..

Berkampanye dengan cara memasang banner dan membagikan “bantuan”, sebenarnya adalah cara jadul yang seharusnya mulai ditinggalkan. Termasuk berkampanye dengan cara penggalangan massa untuk kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti acara kampanye yang diselingi dengan acara dangdutan yang mendatangkan artis-artis seksi atau bahkan SPG (sales promotion girls) untuk menarik massa. Meski hal ini tidak dilarang, namun acara seperti ini tidak cukup mendidik, karena sering kali membawa kekacauan yang berakhir dengan bentrok massa.

IMG-20140328-WA0000Jika memang diperlukan kampanye dengan menggalang massa, maka sebaiknya kampanye tersebut dijadikan peluang para caleg untuk memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat supaya masyarakat lebih cerdas dalam memilih wakilnya.

Masih banyak cara berkampanye yang efektif, berkualitas dan mendidik yang bisa dilakukan oleh para calon wakil rakyat dan harus dikenalkan kepada masyarakat. Misalnya, mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan (kerja bakti), memberi kursus menjahit/memasak/kecantikan kepada ibu-ibu rumah tangga dan seterusnya.
Pemanfaatan media sosial (facebook atau twitter) saat ini juga dinilai efektif untuk mengenalkan visi misi caleg. Karena hampir sebagian besar pemilih memiliki akun di media sosial tersebut. Disamping itu kampanye dengan cara ini juga terbilang hemat, karena tidak membutuhkan modal yang besar. Sayangnya, tidak banyak caleg yang memanfaatkannya.

Persyaratan pendaftaran calon legislatif yang relatif mudah, memang membuat masyarakat memiliki banyak peluang untuk menjadi calon legislatif. Tak hanya para aktivis/akademisi/politikus, melainkan masyarakat yang minim pengalaman di bidang politik, seperti para artis, pengusaha, pedagang bahkan tukang becak, tukang pijat, tukang ojek pun bisa menjadi calon legislatif, asalkan ada partai yang mau mengusungnya.

Abdul Wahid, seorang pengayuh becak warga Jalan Kemuning, Kota Tegal, Jawa Tengah, menjadi caleg DPRD Kota Tegal dengan nomor urut empat untuk Daerah Pemilihan Tegal Timur dari Partai Persatuan Pembangunan (source: liputan6.com)

Source: inilah.com

Kenyataan ini membuat kita (para pemilih) menjadi ragu (bc. sulit) untuk memilih calon wakilnya yang berkualitas yang bisa diandalkan untuk mewakili aspirasi mereka. Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan mereka, namun tidak berlebihan kiranya jika ada kekuatiran, bahwa ajang pemilu legislatif akan dijadikan oleh sebagian pihak untuk sekedar meraih status sosial maupun lahan untuk mencari pekerjaan.

Jika sudah begini, maka harapan kepada mereka untuk menjadi penyalur aspirasi rakyat hanya tinggal mimpi. Kenyataannya, mereka akan sibuk dengan kepentingan mengembalikan modal yang sebelumnya telah mereka keluarkan untuk biaya kampanye.
Maka janji-janji saat kampanye hanya tinggal janji semata dan “menguap” di sidang dewan yang terhormat. Semoga ini tidak terjadi!