Setiap pembelajar pasti setuju bahwa cara yang paling efektif untuk memahami apa yang sedang kita pelajari adalah dengan menuliskannya kembali. Menulis juga dapat menjadi cara yang efektif untuk mengejawantahkan apa yang ada dipikiran kita, medications imajinasi kita, bahkan apapun yang tidak bisa disampaikan melalui perkataan maupun perbuatan kita.

Namun, menulis bukanlah hal mudah. Banyak orang bilang, menulis adalah keterampilan. Menulis membutuhkan praktik atau latihan. Tak cukup sekali, dua kali atau bahkan sepuluh kali. Menulis membutuhkan waktu lebih banyak dari pada sekedar memahami sebuah topik. Sama dengan ketika orang belajar mengoperasikan komputer. Untuk bisa mengoperasikan komputer dengan benar, maka tidak cukup seseorang memahami secara teori cara mengoperasikan komputer. Melainkan dia harus melatihnya, memraktekkannya. Tak cukup sekali, dua kali.. tetapi berulang kali.

Sebenarnya, setiap orang yang berakal memiliki kemampuan untuk menulis. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun bisa. Sepanjang seorang anak mampu membaca, maka saat itu juga Tuhan memberikan kemampuan padanya untuk bisa menulis pula. Sehingga perlu kiranya orang tua, tak hanya mendorong anak-anaknya untuk rajin membaca, melainkan rajin pula menuliskan apa yang telah dibacanya, apa yang telah diketahuinya. Dengan begitu, bakat alami yang dimiliki oleh anak akan terasah sejak dini.

Saya sendiri, akhir-akhir ini banyak disibukkan dengan aktivitas sebagai ibu rumah tangga, sehingga waktu untuk menulis menjadi berkurang. Meski begitu, saya tetap berusaha untuk menularkan passion menulis kepada anak saya, sembari memantau perkembangan perilaku dan akademik mereka.

Adalah Cecilia, anak pertama saya yang saat ini berusia 10 tahun. Kegemarannya pada aktivitas membaca sejak pertama kali dia mengenal abjad, membuatnya tidak terpisahkan dengan buku bacaan. Tak hanya buku pelajaran, namun hampir semua topik bacaan dia sukai. Komik, novel, majalah, kamus bahasa/science, bahkan wikipedia dan google selalu menjadi landing page-nya ketika berinternet ria.

Karena kegemaran membaca itu pulalah, tanpa dia sadari membuatnya menjadi “pandai” untuk membentuk imajinasinya, menuliskan apa yang sedang dipikirkannya. Sehingga kami pun tak segan menyediakan anggaran khusus setiap bulan untuk memanjakannya, berbelanja buku bacaan atau majalah anak kesukaannya.

Jujur, saya sendiri pada awalnya tidak pernah mendorong ataupun mengajari dia untuk menulis maupun berimajinasi tentang sebuah hal tertentu. Meski hampir semua buku tulisnya penuh dengan coretan yang kesemuanya berisi tentang cerita dan gambar fiktif yang dia kembangkan dari buku yang telah dia baca.

Menyadari bakat menulis yang dimiliki oleh anak saya ini, sekaligus untuk meminimalisir banyaknya coretan pada buku tulisnya, maka saya berpikir untuk memberinya sebuah wadah yang dapat memfasilitasi hobby-nya. Sebuah wadah yang bisa diakses kapan saja secara mudah dan murah, mengingat sebuah ide bisa datang kapan saja, dimana saja..

Dan menurut saya, blog bisa menjadi tempat yang nyaman untuk menuliskan segala imajinasi, uneg-uneg sekaligus untuk melatih keterampilan dia dalam mengetik menggunakan perangkat komputer.

Maka sebuah blog bernama http://vrazacecilia.wordpress.com, saat ini telah menjadi “candu” mainan yang tak terpisahkan darinya. Blogging bagi seorang Cecilia menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan saat berada di depan perangkat laptop yang terhubung dengan internet, melebihi ketertarikannya terhadap game online.

Terhitung 1 tahun sejak pembuatan blog itu, telah terdapat lebih dari 170 tulisan yang telah dia posting. Sebuah angka yang menurut saya tidak sedikit (bc. produktif) untuk ukuran anak kelas 4 SD.

Suatu ketika dia meminta saya untuk mendokumentasikan tulisan-tulisannya tersebut menjadi sebuah buku cetak layaknya buku bacaan kesukaannya, KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya)!
Hm.. tentu akan ribet dan memakan waktu yang panjang jika saya harus berurusan dengan penerbit untuk mempublikasikannya. Sehingga cukuplah saya mencetak tulisan-tulisan tersebut dan menjilidnya menjadi buku cetak dengan kover yang mirip dengan buku bacaan KKPK, plus nama penulisnya.. Vraza Cecilia 🙂

Tak sekedar sebagai bentuk penghargaan, tetapi saya berharap hal ini bisa menjadi motivasi buat dia atas apa yang selama ini dia tekuni.

Yah..KKPK, mungkin bisa menjadi salah satu contoh karya tulis anak-anak usia sekolah dasar yang berhasil menuangkan imajinasinya ke dalam bentuk tulisan dan bisa dinikmati kembali oleh anak-anak seusia penulisnya, bahkan bisa menginspirasi mereka.
Pemerintah sendiri baru-baru ini, melalui Kemdikbud telah memberikan penghargaan kepada penulis-penulis cilik berprestasi agar mereka selalu terdorong untuk menulis, mencintai bahasa dan sastra Indonesia.

Maka tugas kita sebagai orang tua untuk selalu mendorong minat baca dan mengasah bakat menulis yang dimiliki oleh anak-anak kita, karena merekalah generasi muda yang akan membuat bangsa ini menjadi HEBAT!