Jangan salahkan Facebook..

5 Hal pertama yang selalu saya lakukan ketika di depan laptop yang terkoneksi dengan internet adalah :

1. Membuka Account Facebook saya
2. Membuka Email saya
3. Membuka Blog saya
4. Membuka Dashboard blog saya
5. Mengaktifkan Yahoo Messenger saya.

Tentu semua saya lakukan satu per satu (tidak bersamaan), meski koneksi speedy saya bisa dibilang wes…hewes..hewes..

Yah.. lihatlah..Facebook menempati urutan pertama dalam daftar yang wajib saya lakukan ketika saya OL.

Sekitar 3-4 bulan yang lalu, mungkin saya merasa masih agak malu ketika orang lain melihat saya di depan laptop sambil memandangi Wall (dinding Facebook ) saya. Tetapi perasaan itu perlahan hilang ketika saya menyadari betapa Facebook telah menjadi hal yang sangat penting dalam karier saya sebagai guru dan perkembagan ilmuan saya..(ciee…)

Loh?? Guru kok Facebook-an??

Why not??!!

Terlepas dari Pro dan Kontra pengharaman penggunaan Facebook oleh MUI, bagi beberapa orang, apalagi seorang guru memang terasa agak saru (baca. tabu) kalau mengakses Facebook, terutama saat berada di lingkungan sekolah.

Bahkan tidak jarang pula kita mendapat cibiran dari teman atau bahkan mendapat terguran dari atasan kita ketika kita mengakses Facebook pada jam kerja.

Hal ini terjadi, karena mungkin teman atau atasan kita itu tidak pernah atau belum bisa menikmati kedahsyatan Jajaring sosial yang satu ini…Atau mungkin kita yang salah dalam memanfaatkan Facebook kita??  Hmm

Yah, saat ini memang banyak pengguna Facebook yang hanya bisa memanfaatkan Facebook sebagai sarana untuk bersenang – senang dan meluapkan perasaannya.

Maka saya tidak heran ketika Presiden Amerika Barack Obama melarang putrinya untuk mengakses Situs jejaring sosial ini dengan alasan takut kedua putrinya itu menuliskan status-status yang bisa mencemarkan nama baik keluarganya.

Percayalah, bahwa jika Facebook dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka kita sebagai guru bahkan akan terbantu dengan adanya jejaring sosial ini.

Lho kok bisa?? silahkan baca uraian saya berikut :

Pertama, Cobalah anda tanyakan dan identifikasi kepada anak didik anda, ketika anda berada dalam kelas. Berapa banyak siswa di kelas anda yang mempunyai account Facebook dan mengakses Facebook secara aktif???

Jujur, Saya pernah melakukannya, dan hasilnya hampir semua siswa saya dalam satu kelas itu memiliki account dan aktif menggunakan Facebook .

Kedua, Cobalah anda perhatikan, atau jika mungkin masuklah  ke dalam sebuah kelas di sekolah tempat anda mengajar, saat pergantian jam dari pelajaran yang satu ke pelajaran yang lain. Dan..lihatlah, Apa yang dilakukan siswa/siswi anda ketika menunggu guru tiba di kelas??? Membaca buku pelajaran kah??

Hmm..saya tidak yakin, Cobalah dan buktikan, maka anda akan menemui siswa anda pada menunduk, bukan karena mereka sedang membaca/menulis pelajaran, akan tetapi mereka sedang memainkan jari-jari mereka diatas keypad HP mereka.

Apa yang mereka lakukan??? Yah, apa lagi??? Kalau bukan berkirim SMS atau melihat status Facebook mereka, baik secara terang-terngan maupun sembunyi-sembunyi….

Tentu tidak semua sekolah menemui hal seperti yang saya temui ini. Tetapi Kenyataan seperti ini tidak bisa kita pungkiri dan biasa terjadi di sekolah-sekolah tingkat menengah ke atas.

Beberapa sekolah mungkin telah menerapkan kebijakan dengan memblokir situs jejaring sosial Facebook sehingga mereka yang membawa Laptop tidak bisa mengakses Facebook melalui laptop/lab komputer, bahkan kita sendiri pun tidak bisa mengaksesnya.

Tetapi, bagaimana dengan siswa yang memiliki Modem pribadi???

Alternatif lain adalah dengan melarang siswanya membawa HP untuk membatasi mereka mengakses Facebook atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang tidak baik yang memanfaatkan HP.

Tetapi apakah larangan-larangan seperti ini akan efektif dan bertahan lama???

Kalau saya boleh pake istilah orang Jawa, ‘Pinter malinge ketimbang sing jagane’ artinya “lebih pintar pencurinya dari pada penjaganya”…

Jadi, meski dilarang pun, mereka tetap akan mencari-cari kesempatan dan cara untuk membuka account Facebook mereka.

Maka, jangan salahkan Facebook kalau sudah seperti ini. Memberi pengertian kepada siswa untuk bisa memanfaatkan Situs ini secara positif, sekaligus menjadikan Facebook sebagai sarana pembelajaran (interaksi) antara guru dan siswa, akan menjadi solusi yang baik, dari pada melarang mereka, namun mereka secara sembunyi-sembunyi tetap mengaksesnya.

Nah, masalahnya sekarang, bagaimana cara memanfaatkan Facebook sebagai wadah interaksi yang positif antara guru dan murid sekaligus untuk meningkatkan prestasi mereka dalam belajar??

Hm…Saya rasa, saya harus menuliskan caranya di lembar yang lain… 😉

 

 

You may also like...