Ketika banyak orang berbicara tentang toleransi dan pluralism -biasanya pada saat hari-hari besar agama-,  maka saya adalah salah satu orang yang tidak terlalu tertarik membicarakan kedua hal tersebut. Karena saya merasa tidak tahu apa-apa tentang makna toleransi dan pluralism. Kalau memang saya harus memaknai kedua nya, maka, mungkin saya hanya akan menjawabnya secara dangkal menurut keterbatasan pengetahuan saya, bahwa toleransi sering kali dihubungkan pada agama, atau toleransi beragama, artinya kita harus saling menghormati sesama makhluk Tuhan yang beragama, baik itu satu keyakinan dengan kita atau tidak, tentu saja dengan cara yang sudah diatur oleh agama yang kita yakini,  sedangkan pluralism berarti penerimaan atas keragaman agama baik berupa teori, faham, maupun sekedar pemikiran. Itu saja!  Mohon maaf kalau salah. Karena seperti yang sudah saya bilang, saya tidak begitu pintar memaknai kedua kata tersebut.

Namun bagi saya pribadi, toleransi dalam kehidupan nyata hanyalah lip service (abang-abang lambe, kata orang Jawa). Meski telah diajarkan  sejak Madrasah Ibtidaiyah melalui pelajaran Aqidah Akhlaq dan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP), tetap saja saya tidak pernah berpikir apakah saya harus atau  mau menerapkannya di dunia nyata. Apalagi sejak kecil saya dididik di lingkungan yang sangat religious dan fanatic terhadap ajaran-ajaran Islam dan sangat menghindari perbuatan-perbuatan yang kami anggap bid’ah.

Maka ketika suami saya meminta saya untuk menemaninya menghadiri undangan acara  perayaan Natal 2010 di gereja GKJW Jombang.  Spontan saja saya bilang, Maaf sayang, tidak bisa..

Di samping karena alasan di atas, memang saya adalah orang yang paling malas kalau diajak keluar malam, apalagi ke acara-acara dengan komunitas yang tidak saya kenal bahkan asing bagi saya.

Akan tetapi, kali ini saya tidak bisa menolaknya, karena saya merasa suami saya agak sedikit memaksa.

Dan diiringi hujan gerimis malam itu, kami menyusuri Jl. Gatot Subroto menggunakan sepeda motor menuju Gereja GKJW Jombang. Berbeda dengan suami saya, saya memakai baju asal-asalan ditutup dengan jaket plus sandal jepit, Dan, perjalanan itupun kami tempuh dalam waktu tidak lebih dari 15 menit.

Turun dari sepeda, saya gendong anak kami yang kedua, yang bernama Galang  menuju jajaran panitia yang sudah siap menyambut kami. Ternyata kami  datang agak terlambat.  Saya merasa agak malu karena keterlambatan kami dan agak minder, tentu saja karena baju yang saya pakai.

Bagaimana tidak, melihat bapak-bapak dengan penampilan yang sangat rapi dan  ibu penerima tamu, dengan dandanan ala ningrat (karena memakai kebaya batik dan konde). Benar – benar sangat cantik dan elegan!

Sedangkan saya?…hm.

Akan tetapi perasaan itu segera hilang, ketika melihat senyuman para ibu yang menyambut kami dengan begitu ramah dan hangat sembari  memberikan satu kotak snack,  membuat kami merasa diterima.

Setelah bersalaman dengan semua resepsionis, mereka tidak membiarkan kami sendirian masuk ke ruangan, akan tetapi kami pun diantar  menuju ruang utama yaitu Gereja. Sesaat saya bertanya – tanya dalam hati, kenapa mereka begitu menghormati kami? Siapakah suami saya di mata mereka? Atau memang seperti inikah mereka menyambut semua tamu-tamu mereka?

Benar-benar tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya jadi berpikir, apakah saudara-saudara (seiman) saya akan melakukan hal yang sama seandainya saya (naudzubillah) berada dalam posisi yang sebaliknya?

Hm..saya tidak terlalu yakin mereka akan melakukan hal yang sama.

Kenapa tidak yakin? Karena mereka tidak membuat saya yakin bisa melakukanya..he..he

Loh kok begitu? Ada deh… 😉

Sambil melangkah kedalam, “Bismillah”, ucap saya dalam hati. Baru pertama kali ini saya menginjakkan kaki di Geraja. Yang terbayang kala itu adalah wajah marah Ayahanda…pastilah beliau akan sangat murka seandainya beliau tahu apa yang saya lakukan sekarang.  Maklumlah beliau adalah termasuk salah satu tokoh agama di desa saya. Jangan kan mendatangi gereja, bersalaman dengan orang non muslim aja mungkin tidak pernah. Namun bayangan wajah itu segera menghilang setelah saya sadar bahwa ratusan orang sedang menatap saya dengan tatapan yang aneh karena jilbab yang saya pakai.

Mulanya agak grogi, tapi setelah kulihat di baris depan banyak para undangan memakai kopyah –yang akhirnya saya tahu mereka adalah  para tokoh lintas agama-,  maka perlahan grogi itu hilang dan akhirnya berubah menjadi rasa Bangga.  Tentu saja, karena saya merasa, tidak banyak orang muslim (terutama wanita)  yang mau menghadiri acara serupa, dengan alasan apapun.  Disamping itu saya juga ingin menghilangkan presepsi masyarakat non muslim tentang orang-orang muslim yang cenderung angkuh dan eksklusif.

Meski panitia mempersilahkan kami untuk duduk di kursi deretan paling depan, saya tetap melangkahkan kaki menuju ke kursi di belakangnya. Nggak tahu-lah, saya merasa tidak enak kalau harus duduk berdekatan dengan para Kyai dan tokoh lintas agama yang sudah duduk mendahului saya.

Dan .. bangku no urut 3 menjadi pilihan terbaik untuk memberi rasa nyaman.

Sembari menikmati hidangan yang sudah disajikan, saya memberanikan diri untuk melirik ke kanan – kiri, memberikan sedikit senyuman kepada para jemaat, dengan harapan ada satu orang saja yang saya kenal, mengingat banyak juga teman seprofesi di sekolah yang beragama kristiani.

Dan, ternyata tidak ada satupun yang saya kenal. Yah..sudahlah.

Acara sambutan  dimulai, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu rohani oleh perwakilan gereja seluruh Jombang. Selanjutnya, adalah drama religi kemanusiaan yang dibawakan secara apik oleh teman-teman LAKPESDAM NU Jombang yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Acara demi acara berlalu, ditutup dengan acara ramah tamah, yaitu makan makan oleh semua jamaah dan tamu undangan.

Berkaca dari pengalaman tersebut, saya berpikir bahwa tidak ada yang salah ketika kita mencoba memaknai dan menerapkan sikap toleransi beragama ke dalam kehidupan secara nyata dengan sedikit terlibat secara fisik, tetapi tidak secara spiritual, dengan tujuan untuk menghargai pendapat dan menghormati keyakinan mereka tanpa melibatkan emosi dan keyakinan kita.

Memang di lingkungan saya, tidak semua orang bisa memahami apa yang telah saya lakukan, meski teman dan saudara saya sendiri pun. Tetapi saya bisa mengerti kalau mereka tidak bisa menerimanya, karena memang mereka tidak pernah (belum) terlibat dan mengalami kejadian tersebut secara langsung.

Maka ketika ada orang berkomentar dengan sedikit ‘menyalahkan’, dalam Akun Facebook saya terhadap status saya yang berbunyi :

Amiroh Adnan, 28 December 2010 at 19:26 via Mobile Web

Ya Allah, baru kali ini menginjakkan kaki di gereja, berkumpul dengan ratusan umat kristiani dalam perayaan Natal di GKJW Jombang. Sejenak menjadi makhluk aneh (minoritas) karena jilbab yang aku pakai, tp kenapa aq bangga? Jika tidak karena suamiku, aq tidak yakin mau melakukan hal ini..

Saya hanya tersenyum menanggapinya, tidak sedikitpun menyalahkan mereka, meski gaya bicaranya agak menggelitik. Ketika ada salah satu sahabat FB yang berkomentar -maaf saya harus mengutipnya supaya tidak terjadi kesalahan penulisan- berikut:

Bunga Melati 28 December 2010 at 22:01 via Facebook Mobile

Naudzubillah mbak istgfr, haram bg stiap muslim mengucapkan aplg menghadiri acr2 non muslim lbh kususnya natal karna ini menyangkut aqidah qt.dlm hal ini sma skali tdk pas kalo qt brdalih toleransi.toleransi dlm mslh aqidah sm skali tdk dbenarkan.ingn tau lbh jauh bc,phami,resapi,amalkan surat alkafirun scr tuntas br qt mampu menempatkan dmana qt hrs brtleransi.m2f jk krg brknan.

Dan ..

Adnan Bazz 28 December 2010 at 20:21 via Facebook Mobile

Rosululloh brsabda…barang siapa yg menyerupai suatu kaum..maka ia bagian dr kaum trsebut..

Kadang kita salah memposisikan makna ‘toleransi’ dalam khidupan kita.. Dan mengesampikan hal yg prinsipel (aqidah).

Setelah membaca 2 comment di atas, dan masih ada sekitar 36 comment dari status FB yang saya tulis tersebut. Terpaksa saya harus me-reload lagi kejadian yang baru saja saya lakukan, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya muncul dalam benak saya,

Apakah waktu itu saya mengucapkan selamat Natal kepada mereka?

Apakah waktu itu saya ikut menyanyikan lagu keagamaan mereka?

Apakah yang telah saya lakukan waktu itu, mengubah sedikiiiit saja pemahaman dan keyakinan yang telah saya yakini benar sejak lahir?

Maka ketika saya sudah bisa menjawab semua pertanyaan tersebut,  saya semakin yakin bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang saya lakukan dan kenapa mau saya melakukannya.

Menjawab ‘pernyataan’ (sekali lagi pernyataan) Bunga Melati, saya jadi ingat fatwa MUI tentang larangan (keharaman) mengucapkan Selamat hari natal dan Selamat Hari Raya bagi Agama lain. Di antara alasan larangan ini adalah bahwa mengucapkan “selamat hari natal” berarti sama dengan membenarkan Ajaran Kristen.  Alasan lain adalah karena “Bid’ah”. Alasan yang lain lagi adalah karena Menyerupai orang kafir.

Sedangkan Ayat yang dijadikan dasar oleh para ulama tersebut di antaranya adalah :

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Qs. Az Zumar [39]: 7)

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah [5]: 3)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imron [3]: 85)

Dan masih banyak lagi.

Kembali pada permasalahan, meski saya tidak melakukan apa yang akhirnya menjadi pertanyaan di hati saya, tetap saja saya tidak lantas setuju dengan fatwa MUI tersebut.

Menurut hemat saya, ayat-ayat yang dijadikan acuan bagi MUI tidak terlalu pas mengarah pada hakekat permasalahan yang sebenarnya (terlalu umum),  berbeda dengan pendapat M. Quraisy Sihab yang pernah saya baca dalam buku berjudul Fiqih Lintas Agama yang ditulis oleh Nur Kholis Madjid (Waktu itu menjadi Rektor Universitas Paramadina), Komaruddin Hidayat (Guru Besar Filasafat Islam dan Sekarang Rektor UIN Jakarta), Masdar F. Mas’udi ( Waktu itu Wakil Katib ‘Am Syuriah PBNU, Anggota komisi Ombudsman Nasional dan Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) serta nama-nama besar lain.

Pada buku tersebut disebutkan bahwa M. Quraisy Shihab mengatakan bahwa ada ayat Alqur’an yang mengabadikan ucapan selamat natal yang pernah diucapkan oleh Nabi Isa, tidak terlarang membacanya, dan tidak keliru pula mengucapkan ‘selamat’ kepada siapa saja dengan catatan memahami dan menghayati maksudnya menurut AlQur’an, demi kemurnian Aqidah.

Mungkin orang awam sulit memahami dan menghayati catatan ini. Beliau mengingatkan agar para pemimpin dan panutan umat bersikap arif dan bijaksana agar tidak menimbulkan kerusakan aqidah dan kesalah pahaman kaum awam.

Berikut adalah ucapan selamat natal yang diucapkan oleh Nabi Isa dan diabadikan oleh AlQur’an dalam QS.19:33 : “Salam sejahtera untukku dan hari kelahiranku, wafatku dan kebangkitanku kelak”.

Sebelum mengucapkan salam tersebut, kita mengingat ajaran AlQur’an QS:19:30-32) bahwa : “Isa adalah hamba Allah yang diperintahkan sholat, zakat dan mengabdi kepada ibu, tidak bersikap congkak dan tidak pula celaka.”

Dan ucapannya ditutup dengan QS 19:36 ,”Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus”.

Inilah ucapan selamat natal ala Alqur’an, lanjut ulama besar ini.

Adakah seorang muslim yang enggan atau melarang ucapan selamat Natal dengan maksud demikian, sambil mempertimbangkan situasi dan kondisi ketika ucapan selamat itu diucapkan? Wa Allahu a’lam..

M. Quraisy Shihab sangat berhati-hati dalam menjelaskan masalah mengucapkan selamat natal.  Ketika mengatakan bahwa Al Qur’an mengabadikan selamat Natal yang diucapkan oleh Nabi Isa, tidak dilarang membacanya dan tidak pula keliru mengucapkannya, beliau mengingatkan agar umat Islam memahami dan menghayati maksudnya menurut AlQur’an untuk menjaga kemurnian Aqidah.

Selamat Natal yang dipahami dan dihayati menurut AlQur’an adalah selamat Natal ala AlQur’an, yaitu sebagaimana QS 19:33. Ucapan “Selamat Natal Ala AlQur’an” tentu saja tidak dilarang. Beliau juga mengatakan bahwa mengucapkan “selamat” kepada siapa saja tidak lah keliru.

“Selamat” dengan tanda petik disini dapat pula diartikan “ucapan” atau kata “selamat”.  Apabila ini yang dimaksud “selamat”, maka mengucapkan ucapan “Selamat Natal” dan ucapan-ucapan lain yang menggunakan kata “selamat” (meskipun dalam bahasa-bahasa asing digunakan kata-kata yang berbeda), tidak dilarang.

Jadi kesimpulannya, mengucapkan “Selamat Natal” dengan memahami dan menghayati ayat Alqur’an (QS 19:33) yang mengabadikan ucapan Nabi Isa, tidaklah dilarang.

Kemudian bagaimana dengan tindakan saya dan suami menghadiri acara perayaan tersebut? Apakah lantas kami akan dianggap bagian dari umat kristiani, dalam arti saya kufur? Naudzubillah.. Sebagaimana komentar Adnan Buzz  yang sudah saya kutip di atas?

Meski saya sudah menjawab dalam akun FB saya, tetap saja saya harus menjelaskan supaya ada dasar dan data real sehingga kita tidak dengan mudahnya men-judge orang.

Pada Jum’at 24 Desember 1999, Presiden Palestina Yasser Arafat (tentu saja dia adalah seorang Muslim tulen) bersama istrinya Suha, menghadiri misa tengah malam di Gereja Kelahiran Kristus di Kota yang sama, setelah dia  menghadiri dan mengikuti shalat terawih di masjid dekat gereja itu. Di Gereja itu Arafat berdo’a untuk perdamaian.

Kebiasaan menghadiri dua acara itu tampaknya dilakukan oleh Yasser Arafat  setiap tahun, kecuali pada perayaan Malam Natal tahun 2002, karena dia dilarang oleh penguasa Israel untuk menghadiri acara itu, sehingga kursi yang disedikan untuknya kosong.

Pada malam yang sama, 24 Desember 1999, di Banda Luka, Bosnia-Herzegovina, orang-orang Serbia dan orang-orang Muslim bergabung dengan 400-an orang Kroasia Katolik merayakan Misa Malam Natal.

Suasana itu adalah cerminan kerukunan antara komunitas-komunitas dari agama-agama yang berbeda di kota yang selama beberapa tahun sebelumnya dilanda konflik berdarah yang penuh dengan kekerasan.

Mantan ketua MPR RI Amien Rais juga pernah menghadiri perayaan Natal di Gereja Sntrum Tondano, ibu kota Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada selasa 19 Desember 2000. Mantan Ketum PP Muhammadiyah itu menemukan sebuah pengalaman menarik dan langka ketika menyaksikan kelompok Qasidah Kampung Jawa Tondano menyanyikan lagu “Torang Samua Basudara (kita semua bersaudara). Dalam perayaan itu juga dihadiri oleh para ulama Muslim. Amien tidak kuasa menahan rasa haru saat menyaksikan penampilan kelompok Qasidah itu. Dengan nada suara yang bergetar ketika menyampaikan pidatonya, Amien berujar :”Saya benar-benar terharu menyaksikan praktik kehidupan rukun dan damai masyarakat di tempat ini. Sungguh menjadi pengalaman berharga bagi kita semua”.

Pada tahun 2003, kita menemukan kembali contoh orang-orang muslim yang menghadiri perayaan Waisak (Hari Raya Agama Budha). Adalah Menteri Agama kala itu, Said Agil Husin  Al Munawwar. Dia menghadiri perayaan Waisak Nasional 2547 di Candi Borobudur, Jawa Tengah, pada Kamis, 15 Mei 2003. Sebagai Menteri Agama dia tidak hanya sekedar menghadiri perayaan tersebut tetapi juga menjadi orang penting yang diminta menyampaikan sambutan dalam pertemuan agung tersebut.

Gambaran di atas melahirkan pemikiran bahwa toleransi dan pluralisme agama semestinya dimaknai secara lebih sederhana, tanpa harus membawa-bawa keimanan (aqidah). Toleransi agama seyogyanya berhenti pada batas sosial (akhlak) tanpa harus mengorbankan keyakinan diri dan keyakinan orang lain. Ketika seseorang beriman dengan sepenuh hati terhadap agamanya dan menghormati agama lain, seperti itulah mestinya Pluralisme Agama.

Berbicara tentang keimanan, meyakini dan menganggap bahwa agama yang diimani adalah agama yang benar memang kewajiban. Orang yang tidak memiliki keyakinan bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang benar justru keimanannya perlu dipertanyakan.

Namun ketika berbicara tentang Pluralisme Agama, maka pembicaraan ‘keimanan’ seharusnya hanya sebatas mengimani dan melaksanakan ajaran agamanya sendiri. Artinya, pluralisme agama itu seyogyanya dimaknai sebagai penerimaan atas keragaman agama tanpa melibatkan keimanan (aqidah) agamanya.

Setiap orang beragama memang wajib meyakini bahwa agamanyalah yang benar. Namun dalam hubungan sosial, keyakinan itu seyogyanya tidak dibenturkan dengan keyakinan yang lain, apalagi ikut menilai salah atau benar keyakinan orang lain. Karena jawaban atas penilaiannya sendiri tentu sangat subyektif, bisa salah atau benar. Keyakinan (aqidah) dalam Pluralisme Agama harus berhenti pada batas meyakini kebenaran agamanya sendiri tanpa disertai penilaian atas kebenaran agama yang lain. Hal ini penting agar fanatisme keimanan yang sebenarnya sangat baik tidak menjadi kebablasan.

Kiranya kita bisa mengambil pelajaran bahwa Apapun yang kita lakukan, selama kita mendasarinya dengan niat baik disadarkan pada aturan-aturan agama yang kita yakini tanpa mengganggu hak orang lain, pasti Tuhan akan menganggap itu adalah bagian dari amal baik yang harus diapresiasi. Bukankah baik tidaknya amal seseorang tergantung dari niatnya?

Oleh sebab itu, semua perbedaan pendapat, faham dan pemikiran hendaklah disikapi dengan arif , dengan mempertimbangkan hak orang lain untuk mengejewantahkan apa yang ada dipikiran mereka dan apa yang mereka pahami sebagai sesuatu yang benar. Bukankah Agama telah mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat, sehingga penerimaan atas perbedaan tentu menjadi bagian dari rahmat itu sendiri.