Pagi itu udara benar-benar dingin. Seperti biasa saya kayuh kuat-kuat sepeda menuju sekolah. Karena Jam 06.30 tepat saya harus sudah berada di dalam sekolah.

Dan tepat jam 06.40­­, case saya pun sudah berada di depan sekolah. Bapak Taji, see satpam sekolah selalu menyambut saya dengan sangat ramah, maka tanpa ragu aku lemparkan senyuman termanisku pagi itu sebagai excuse atas terlambatan saya.

Setelah memarkir sepeda, segera saya menuju ke Ruang bengkel (panggilan Ruang Produktif di sekolah kami). Masih ada waktu 5 menit untuk mengecek e-mail sebelum masuk kelas untuk bertemu dengan anak-anak. Setelah satu e-mail terbalas, saya pun meluncur menuju ruangan.

Selalu saja, anak-anak menyambutku dengan suka cita. Jok-jok ringan selalu mereka lontarkan untuk membuat saya tetap tersenyum.

Setelah membuka pertemuan, saya pun duduk manis di kursi depan sembari menyalakan laptop dan mempersiapkan LCD projector.

Tidak lama duduk dikursi, saya merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Bau aneh tercium disekitar tempat duduk saya. Mulanya saya acuhkan saja, karena saya  merasa anak-anak sudah menanti saya untuk memulai pelajaran.

Ketika saya sedang membuka-buka file yang akan saya sajikan, bau itu muncul kembali. Segera saya komunikasikan hal itu ke anak-anak apakah mereka juga mencium aroma yang sama. Ternyata tidak.

Maka saya pun berusaha menahan diri dengan mengoleskan sedikit cream ke tangan saya supaya aromanya bisa menetralisir bau tersebut. Tetapi, tetap saja konsentrasi menjadi terpecah ketika bau itu datang kembali.  Segera pikiranku mendefinisikan bau tersebut adalah bau kotoran tikus.

Sambil mengernyitkan hidung, saya pun mencari sumber bau tersebut di laci bawah meja saya, barangkali dari sanalah bau itu berasal, dan ternyata tidak ada!

Sayapun semakin penasaran, maka saya beranjak dari tempat duduk untuk mencari nya di bawah tempat duduk saya, setelah sedikit berputar di sekitar kursi, saya tidak juga menemukan sumber bau tersebut. Akhirnya saya menyerah.

Saya geser meja agak ke tengah dengan tujuan menghindari bau itu, dan sayapun duduk kembali. Tidak lama kemudian aroma itu datang kembali.

Saya kesal dan langsung berdiri.

What the hell is this?? “, gumamku agak keras.

Sayapun berputar-putar lagi untuk mencari bau itu, kali ini harus ketemu, pikirku.

Suasana kelas jadi sedikit tidak kondusif.

Tetap saja saya tidak menemukan kotoran tikus, atau apapun kecuali jejak-jejak langkah saya sendiri.

Memang semalaman kota ini diguyur hujan deras, sehingga sebagian jalan yang tidak beraspal pastilah becek. Sehingga apabila sebagian tanah ada yang menempel di sepatu, menjadi sangat wajar.

Namun ketika saya mendekati salah satu jejak, bau itupun semakin kuat. Saya jadi curiga. Saya dekati jejak itu, dan saya amati untuk mencari kebenarannya apakah jejak itu dari tanah atau kotoran tikus.

Tidak jelas, karena mereka mempunyai warna yang sama. Tanpa berpikir lama, sayapun membalik sepatu saya dan melihat sebuah benda hitam menempel di sana.

Saya tidak begitu saja percaya kalau bau itu berasal dari jejak sepatu saya, maka tanpa berpikir panjang saya angkat sepatu itu dan kudekatkan  pada hidungku dan ternyata…Bau!!!!

Seonggok tahi kucing menempel di sepatu saya. Setelah minta ijin pada anak-anak, secepatnya saya berlari meninggalkan kelas. Segera saya membersihkan sepatu saya melalui kran air yang sudah terpasang di depan bengkel Elektronika.

Saat semua konsentrasi tertuju pada sepatu, Salah seorang teman menghampiri dan bertanya,

Serius amat bu? Lagi ngapain?”, Tanyanya.

“Ini loh pak sepatu saya kena tahi kucing..”,  Jawab saya tanpa memandang sedikitpun ke wajah dia.

“Masak sih bu di sini ada tahi kucing??”, tanyanya balik.

Karena agak jengkel, saya diam saja, berpura-pura tidak mendengarnya. Diapun mengulang pertanyaannya.

“Masak sih bu disini ada tahi kucing??”,tanyanya dengan nada agak keras.

Dengan nada dongkol saya menjawab”, kalau bukan tahi kucing, masak tahi lalat?!

“???@#$@##???”.

Dia pun diam dan segera meninggalkan saya.