Seminggu ini di rumah kami kedatangan seorang anggota baru. Seorang wanita berumur 63 tahun yang kami ajak bergabung untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga kami. Sumiyah, information pills namanya. Kami menyebutnya Embok.

Embok adalah seorang janda tanpa anak. Dia ditinggal mati oleh suaminya sejak tahun 1986. Sepeninggal suaminya, dia memutuskan untuk tidak menikah lagi. Saya tidak tahu persis kenapa dia waktu itu tidak mau menikah lagi. Padahal Embok bisa dibilang wanita yang cukup cantik, wajahnya bersih, imut, terlihat sampai sekarang. Dia wanita pekerja keras. Sejak suaminya tiada, dia memutuskan untuk mencari nafkah dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dan tahun ini adalah tahun ke-22 sejak dia memilih profesi itu.

Setahun terakhir, Embok bekerja di rumah seorang janda kaya yang terkenal agak pelit. Sebenarnya Embok sudah berkali-kali kerja ditempat tersebut. Tetapi embok selalu tidak kerasan, karena alasan tertentu. Setiap kali embok purik, si majikan selalu mengiba ke Embok supaya mau kembali bekerja di rumahnya. Naluri orang tua, selalu saja tidak tega ketika melihat anaknya merengek-rengek membutuhkannya. Dan Embok pun kembali bekerja di rumah itu.

Embok adalah janda sebatang kara. Dia tidak mempunyai tempat tinggal sendiri, dia hidup bersama di rumah keluarga saudara perempuannya. Jadi Hidup di rumah orang dengan menjadi pekerja RT menjadi hal terbaik menurut dia. Karena dia merasa tidak ada yang direpotkan.

Minggu ini, Embok memutuskan untuk pulang dan tidak kembali lagi ke keluarga tersebut. Kami tidak tahu kenapa. Usut punya usut, ternyata sudah 4 bulan terakhir ini gaji Embok tidak diberikan oleh majikannya. Sehingga dia merasa tidak ada gunanya lagi bekerja disana.

Setelah 3 hari Embok menganggur, maka kami datang ke rumahnya untuk menawarkan pekerjaan di rumah kami. Memang, Embok tidak pernah sepi dari tawaran sebagai PRT, karena memang track record nya bagus. Tanpa berpikir panjang, Embokpun senang menerimanya.

Ketika dia pertama kali tiba di rumah, keluarga kami sangat senang, karena sudah hampir 3 minggu ini kami kerepotan menangani pekerjaan RT kami. Sehingga kedatangan embok menjadi seseorang yang sangat ditunggu. Kami persilahkan embok duduk di kursi. Kami ajak bicara. Tentu saja bukan untuk melakukan wawancara fit and proper test. Kami hanya ingin memberi kesan ramah kepada embok supaya dia merasa nyaman dan seperti di rumah sendiri.

Bukan Embok namanya kalau dia tidak menceritakan semuanya. Mendengarnya bercerita membuat hati kami serasa diiris-iris. Dia diperlakukan layaknya ‘robot hidup’ yang mana harus selalu siap 24 jam untuk merawat bayi berusia 2,5 tahun dan orang sakit terkena stroke.

Tidak kuat menahan lelah tenaga dan pikirannya, akhirnya Embok memutuskan untuk pamit pulang. Dan tragisnya, gaji dia selama 4 bulan tidak dicairkan oleh majikannya. Dia hanya diberikan ongkos pulang sebesar Rp.50rb. Itupun dia tidak diantar pulang.

Bagi kami, Embok kami anggap seperti ibu kami sendiri, selain karena umurnya yang hampir sama dengan usia ibu saya, dia juga memperlakukan saya, bukan seperti majikannya.

Seperti ketika saya duduk terpana mendengar ceritanya, tanpa sadar saya menopangkan tangan di dagu. Sontak saya kaget, ketika tiba-tiba dia menarik tangan saya dan bilang, “tidak baik duduk sambil menopang dagu”. Dan, Saya pun akhirnya ketawa cekikikan. Embok..embok..

Akan tetapi ada yang membuat kami agak merasa tidak nyaman dengan kondisi Embok. Dia memiliki masalah dengan pendengarannya. Mulanya, kami tidak merasa terganggu, namun kelamaan kami merasa capek juga kalau harus mengulang setiap kata-kata kami. Kami juga memberitahu kepada anak kami supaya agak mengeraskan sedikit volumenya ketika berbicara dengan Embok. Sehingga akhirnya rumah kami terdengar agak ramai ketika kami berkomunikasi dengannya.

Tetapi saya tidak bisa menyalahkan dia, karena kami sudah mengetahui kondisi itu sebelum dia menjadi anggota keluarga kami.

Maka kami putuskan untuk mengalah. Kami cari cara bagaimana berkomunikasi dengan embok tanpa harus bicara keras, dan akhirnya, ada. Yaitu dengan menggunakan bahasa isyarat. Tentu saja bukan seperti bahasa isyarat orang tuna rungu, tetapi lebih pada penekanan gerakan tangan dan bibir.

Maka ketika kami ingin memanggilnya, kami harus mencoleknya atau mendekatkan mulut ke telinga dia.

Suatu saat saya ingin dia memasak air, maka saya harus mengambil panci dan menunjuk ke air. Maka dia pun manggut-manggut tanda mengerti.

Ketika anak saya minta makan dengan lauk telur ceplok, maka saya harus mengambil piring dan telor sambil berkata lirih, ce (bibir ditarik ke kanan kiri) – Plok (bibir manyun kedepan). Maka dia pun tersenyumm…Kena!

Pagi ini saya meminta dia untuk menggoreng tempe, telor dadar dan sambel dengan komunikasi yang sudah dia pahami, tanpa saya harus bicara keras. Ketika tempe sudah siap, saya melihatnya agak sedikit gosong, sehingga saya harus mengkomunikasikan hal ini lagi dengan dia. Maka saya pun mengambil satu tempe dan menunjukkannya sambil berkata lirih, “Ojo Gosong – gosong..”. Anehnya dia malah tersenyum, dan mengulang ucapan saya dengan berkata, “ Gak! iki jek dino rebo, sesok wae kemis, poso...” . Yah, Embok…