Menikmati sajian politik sepak bola menjelang kongres PSSI 2011 membuat hati ini igit-igit (bs.jawa : geregatan).  Apalagi sejak ditetapkannya Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie sebagai bakal calon ketua Umum PSSI 2011-2015. Sudah jelas publik tahu, ask akan dibawa kemana PSSI kita, mengingat mereka berdua adalah antek-antek PSSI Orde lama.

Keputusan Komite Pemilihan Ketua Umum PSSI yang mencoret 2 nama calon lain, yaitu KSAD George Toisutta dan Arifin Panigoro, pengusaha dari Grup Medco (yang mendanai Liga Primer Indonesia), sebagai bakal calon Ketua Umum PSSI semakin menguatkan dugaan adanya intrik di dalam tubuh PSSI, bahkan Menpora Andi Malarangeng sendiri terkejut ketika mengetahui mereka tidak lolos verifikasi Calon Ketua Umum PSSI.  Pemerintah melalui Menpora memperingatkan Komite Pemilihan Ketua Umum PSSI segera mengoreksi keputusan Komite Pemilihan Eksekutif PSSI itu. Andi menyatakan tak ragu membekukan kegiatan PSSI, apabila tidak melakukan koreksi ketentuan tentang persyaratan dan penetapan calon ketua umum PSSI.

Memang menjelang kongres berlangsung, banyak hal yang tidak sesuai dengan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku. Ada beberapa ketentuan statuta PSSI yang digunakan, berbeda dengan standar statuta FIFA.  Di antaranya adalah Statuta FIFA Pasal 32 ayat (4) menyatakan “… they shall have already been active in football, must not have been previously found guilty of a criminal offense …” yang dalam terjemahan Bahasa Indonesia-nya adalah “… mereka telah aktif dalam kegiatan sepakbola dan tidak pernah dinyatakan bersalah dalam tindak pidana …” diterjemahkan secara sempit menjadi “telah aktif sekurang-kurangnya 5 tahun dalam kegiatan sepak bola”.

Sedangkan pada persyaratan selanjutnya (2) “The members of the Executive Committee… must not have been previously found guilty of a criminal offence (Anggota Komite Eksekutif…..harus tidak pernah sebelumnya dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal)” ditafsirkan secara samar dengan “Anggota Komite Eksekutif… harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal pada saat kongres serta berdomisili di wilayah Indonesia”.

Lucu dan Aneh!! Tentu saja kedua penafsiran tersebut dimaksudkan untuk memuluskan jalan Nurdin Halid yang nota bene pernah menjadi terpidana tindak pidana Korupsi alias mantan narapidana.

Tak terelakkan lagi, Aksi demonstrasi untuk menolak Nurdin Halid sebagai calon ketua umum PSSI periode 2011-2015 bermunculan di berbagai daerah. Bahkan, KONI Jawa Barat siap membuat PSSI tandingan jika Nurdin kembali terpilih. Di Yogyakarta, puluhan pencinta sepakbola juga berunjuk rasa menuntut revolusi pengurus PSSI.

Sementara di Palembang, Sumatra Selatan, pertandingan perdana Pra Olimpiade 2012 antara tim nasional Indonesia melawan Turkmenistan, terancam sepi penonton. Pasalnya, para suporter memboikot tidak mau menonton sebagai protes menolak Nurdin Halid kembali memimpin PSSI.

Di Jakarta, kelompok “Save Our Soccer” mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi dan meminta KPK menetapkan Nurdin Halid sebagai tersangka kasus korupsi.  Dari catatan mereka, Nurdin diduga terlibat dua kasus korupsi. Ia diduga menerima Rp 500 juta dalam kasus pemilihan Miranda Swaray Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

 

Dalam kasus Persatuan Sepakbola Samarinda, Nurdin diduga menerima Rp 100 juta dari Aidil Fitrio, mantan Manajer Persisam yang terbukti korupsi dana APBD untuk klub tersebut senilai Rp 1,7 miliar. Dan masih banyak lagi dosa-dosa nurdin yang mungkin tidak cukup dituliskan dalam 32 bab buku jika dipreteli satu persatu.

Di Malang dan Bojonegoro, ratusan pencinta sepakbola berangkat ke Jakarta dan bergabung dengan Aliansi Suporter Indonesia (ASI) untuk melakukan Aksi. Tujuan mereka menolak pencalonan kembali Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI.

Dan, Selasa, 22 Februari, pukul 22.30 WIB hingga pukul 22.45 WIB, Aliansi Suporter Indonesia berhasil menduduki PSSI dengan secara simbolis mendirikan Tenda Putih. Tenda putih ini juga ditujukan untuk menaungi para suporter asal Pekalongan dan Kediri yang bakal mogok makan selama tiga hari mulai Rabu ini.

ASI menempatkan tiga tenda putih itu di tempat parkir depan kantor PSSI. Dua tenda ditempatkan di parkir depan ruang wartawan di samping kanan Kantor PSSI. Dan satu lagi ditempatkan di lahan parkir tempat biasa para petinggi PSSI memarkirkan kendaraannya.

Tak mau kalah, manuver baru juga dilakukan Nurdin pada kongres tahunan PSSI tanggal 20-21 Januari kemarin dengan meminta semua klub untuk menandatangani surat pernyataan dukungan menggunakan kop resmi PSSI dan materai Rp 6.000. Dalam pernyataan tersebut terdapat dua lembar formulir pernyataan bentuk dukungan.

Lembar pertama berisi pernyataan dukungan untuk Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dan lembar kedua berisi lembar pernyataan untuk anggota Komite Eksekutif.

Pernyataan Dukungan Ketua Umum PSSI Periode 2011-2015. Nama kandidat: Drs HAM Nurdin Halid. Tanggal Lahir: 17 November 1958. Dengan ini menyatakan bahwa kami menominasikan dan memilih Drs HAM Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI periode 2011-2015,” demikian tertulis dalam formulir itu.

 

Di lembar tersebut disediakan kolom kosong untuk ditandatangani oleh Ketua Umum Pengprov dan Sekretaris Pengprov PSSI. Sementara lembar dukungan untuk anggota Komite Eksekutif tertulis, “Dengan ini menyatakan bahwa kami menominasikan dan memilih ______ sebagai anggota Komite Eksekutif PSSI periode 2011-2015.”

Please..belum apa-apa sudah melakukan suap. Lantas apalagi yang bisa diharapkan dari seorang Nurdin???

Sudahlah Din..tidakkah kau kenyang selama lebih dari 10 tahun menduduki kursi PSSI dengan segala kenikmatan yang sudah kau hisap habis??

Belajarlah dari pengalaman negara-negara tetangga yang mana para pemimpinnya diturunkan secara paksa oleh rakyatnya akibat kearoganan mereka sendiri. Atau memang kau ingin mencicipi nikmatnya digelandang oleh kekuatan massa??

Maka dari itu, tidak hanya oleh Komite Pemilihan, akan tetapi kita, rakyat Indonesia harus mengawal Kongres PSSI 2011, tanggal 26 Maret di Bali mendatang,  supaya Revolusi PSSI dapat berjalan sesuai dengan keinginan semua Masyarakat Indonesia.

Maka tidak ada pilihan lain, Revolusi PSSI adalah harga mati!!! Supaya kita tidak hanya bisa melihat wajah baru pengurus-pengurusnya yang membawa komitmen dan semangat baru, akan tetapi juga mengubah wajah persepakbolaan kita menjadi pertandingan yang sehat dan tontonan yang berkualitas.

Well, Guys!! Now it’s time to change the game…

Tambahan :

Nikmati parodi “Turunkan Nurdin” di  : http://www.youtube.com/watch?v=EsXFKr6FkrA&feature=player_embedded

Dalam video yang dishare ke Youtube dan berdurasi 4.23 detik ini merupakan cuplikan film Downfall (Der Untergang) yang dibintangi Tom Cruise. Dalam video tersebut, Hitler terlihat marah dan (seolah-olah) membahas persoalan sepak bola Tanah Air hingga soal susahnya membuat Nurdin mundur dari jabatannya.

Nikmati juga, Lagu “Nurdin Turun Donk”:

Referensi :

http://id.news.yahoo.com/

www.youtube.com

http://bola.okezone.com

http://koranbola.info/nurdin-terbukti-menggalang-dukungan/

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/02/205355/33/4/Aliansi-Suporter-Indonesia-Kuasai-Kantor-PSSI