Pemanfaatan elearning di Indonesia, tahun 2013 yang lalu bisa dikatakan berkembang cukup pesat. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan media sosial, seperti facebook/twitter, yang banyak dimanfaatkan oleh hampir semua kalangan terutama para profesional di berbagai bidang.

Kita, para pendidik (bc. pembelajar) professional, perlahan namun pasti juga mulai ‘melirik’ bahkan telah beralih dari pembelajaran konvensional menuju pembelajaran berbasis IT melalui blog, elearning, media sosial maupun perangkat teknologi lainnya.

Perkembangan perangkat teknologi (gadget), mau tidak mau memang memaksa kita mulai berpikir untuk menerapkan pembelajaran berbasis perangkat teknologi ini. Bahkan para profesional memprediksikan beberapa teknologi untuk pembelajaran (e-learning) dan model pembelajaran berbasis IT yang akan banyak digunakan pada tahun 2014 ini.

Adalah Mobile learning, Social learning/Informal learning, Gamification dan Game based learning, HTML5, Video based learning, Digital Textbook Responsive e-Learning Design dan seterusnya, yang masih menjadi pilihan dan mewarnai cara belajar para professional 2-3 tahun ke depan.

Selain media sosial, Blog Komunitas, saat ini juga banyak diminati oleh pengguna internet yang memiliki visi yang sama.

Sebut saja, Guraru.org. Blog keroyokan bagi para guru ini selama setahun belakangan berkembang cukup pesat dengan bertambahnya jumlah anggota dan aktivitas para penggunanya. Bahkan bisa dikatakan bahwa Blog Guraru.org saat ini telah menjadi salah satu blog komunitas guru yang paling aktif diantara banyak blog komunitas guru yang ada.

Beragam artikel, terutama yang mengulas tentang metode dan media pembelajaran berbasis IT, dibahas di blog ini setiap bulannya. Diantaranya, Jejaring sosial untuk pembelajaran, E-learning untuk pembelajaran, Montessori, Flipped classroom, Gamification, Collaborative Learning dan seterusnya. Aktivitas para guraru dalam blog Guraru.org ini secara tidak langsung juga berkontribusi terhadap perkembangan pemanfaatan teknologi di dunia pendidikan.

Berbicara tentang penerapan teknologi informasi pada proses pembelajaran, memang tidaklah semudah “membalikkan telapak tangan”. Berbagai permasalahan akan tumbuh secara linear bersamaan dengan upaya kita menerapkannya. Permasalahan “klasik” yang sering muncul adalah terbatasnya infrastruktur, akses dan bandwith internet yang tidak memadai 😀

Permasalahan-permasalahan tersebut adalah lumrah adanya ketika kita memutuskan untuk “hijrah” menuju kondisi yang lebih baik melalui perangkat teknologi. Bahkan dengan berbagai permasalahan inilah, kita ditantang untuk mencari solusi terbaik yang bisa dilakukan, dan tidak sekedar menyalahkan kondisi yang ada.

Saya masih ingat presentasi Pak Rudi Hilkya saat Kopdar Guraru 2013, beliau menceritakan tentang betapa susahnya mengubah “peradaban” di lingkungan sekolahnya yang notabene sangat jauh dari “metropolitan” dan “awam” terhadap teknologi informasi dan komunikasi, menjadi kondisi yang bergantung pada TIK. Bagi beliau, tidaklah sulit mengatasi berbagai permasalahan-permasalahan “teknis klasik” tersebut di atas. Tetapi yang tidak mudah adalah bagaimana mengubah “cara pandang” para civitas akademika yang ada di lingkungan tersebut. And..he did it!

Tentu, kita tidak akan bisa sepenuhnya (bc. terus menerus) menggunakan IT pada proses pembelajaran kita. Bahkan belum boleh! Apalagi untuk elearning. Menurut saya, yang dimaksud dengan memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran (apapun itu metodenya), adalah mengkombinasikan metode pembelajaran konvensional dengan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Istilah populernya #BlendedLearning

Maka, menjadi lucu jika masih ada yang mengaku guru era baru tapi bertanya, “Bu Amiroh sering meninggalkan kelas untuk menjadi fasilitator.. Terus kapan ngajarnya??”

Hari gini… #gituloh 😀

Artikel terkait http://guraru.org/guru-berbagi/berbagi-pengalaman-seru-menggunakan-edmodo/

Referensi : http://learnnovators.com

Gambar : http://blogs.skillsoft.com