*Tak henti-hentinya hati dan pikiran ini berusaha untuk mengingat dan menghitung, kesalahan apakah kiranya yang telah saya perbuat, sehingga Tuhan berkenan memberikan kejutan kepada saya atas sebuah kejadian yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya..*

Hari itu, seperti biasa.. kami selalu bergantian untuk mengantar jemput kedua buah hati kami ke sekolah. Hampir 4 bulan ini kami tidak mempunyai seseorang yang membantu pekerjaan rumah tangga kami. Sehingga kami harus berbagi tugas untuk hampir semua urusan rumah tangga kami, terutama urusan antar jemput anak ke sekolah. Jika pagi ini suami yang bertugas mengantar, maka sayalah yang nantinya bertugas untuk menjemput mereka. Begitu juga sebaliknya.
Dan hari ini, adalah giliran saya untuk menjemput mereka..

Maka segera saya beranjak meninggalkan sekolah menuju SDIT Roushon Fikr, sesaat setelah bel pulang berbunyi.

Tak lebih dari 15 menit perjalanan, saya pun sampai di sana. Terlihat kedua anak saya, Cecil dan Galang yang tengah duduk manis menunggu kedatangan saya.. Tanpa komando, mereka pun serentak naik ke sepeda motor sesaat setelah saya tiba. Dan..bersama Motor Honda Beat, kami pun berlalu..

Sesaat kemudian, kami mampir untuk membeli es tebu di warung kecil langganan kami. Di sini kami selalu membeli 3 bungkus es tebu untuk menemani perjalanan pulang kami yang tak kurang dari separuh perjalanan lagi.

Sepanjang jalan, kami larut dalam obrolan dan perdebatan bersama Cecil dan Galang, seputar materi ujian dan kemampuan mereka dalam menjawab soal- soal ujian. Yah.. Hari-hari ini memang mereka sedang menempuh ujian tengah semester (UTS). Dan obrolan ini adalah salah satu cara untuk mendapatkan informasi apakah mereka dapat melalui UTS ini dengan baik.

Suara seorang ibu tiba-tiba memecahkan pembicaraan kami..
“..mbak tasnya jatuh!” Ucap perempuan itu sambil berlalu. Obrolan seru dan konsentrasi menyetir membuat saya tidak sadar bahwa tas ransel yang saya taruh di bawah setir sepeda motor yang kami naiki, telah jatuh.

Tanpa berpikir panjang, saya segera memutar balik motor untuk mengambilnya. Sebenarnya, kami tidak tahu persis lokasi di mana tas itu terjatuh. Namun, pastilah tidak jauh dari posisi terakhir kami berada. Maka kamipun segera menelusurinya..
Namun.. tak tampak satupun tas terjatuh di sepanjang jalan itu.

Beberapa kali saya menanyakan kepada tukang becak dan para pedagang kaki lima yang berjualan makanan di sepanjang jalan itu, namun mereka mengaku tidak melihatnya.
Anak saya, Cecil, seketika itu menangis histeris saat menyadari bahwa laptop kesayangannya berada dalam tas itu. Yah..tas ransel itu berisikan hampir semua barang dan perangkat yang saya gunakan untuk mengajar. Laptop, HP, Kamera, Flashdisk, Modem, Kartu Identitas, uang dan surat berharga lainnya, berada dalam tas itu.
Dan kini..tak satupun tampak jejaknya.

Saya berpikir, percuma saja kami berputar-putar untuk mencarinya. Maka kamipun segera melaporkan kejadian kepada Kepolisian setempat, berharap agar mereka mau membantu menemukan tas itu.
Namun, harapan itu tampaknya harus saya kubur dalam, ketika melihat para petugas yang tidak begitu responsif menerima laporan kami.

Sedih? Itu pasti. Siapa yang tidak sedih kehilangan barang-barang yang dibutuhkannya. Kecewa? Tentu, ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan..

Siang itu, tak kuasa rasanya membendung air mata kesedihan ini..

Tak henti-hentinya hati dan pikiran ini berusaha untuk mengingat dan menghitung, dosa apakah kiranya yang telah saya perbuat, sehingga Tuhan berkenan mengambil semua barang pribadi saya? Rencana apakah yang telah dipersiapkan Tuhan untuk saya atas kejadian ini?

Sayapun tertunduk lesu meninggalkan kantor kepolisian..
Suami saya berusaha menenangkan hati dengan wejangan-wejangannya, termasuk langkah terburuk yang harus kami lakukan, apabila tas tersebut tidak bisa diketemukan.

Pengalaman beberapa teman menyebutkan bahwa tidak mudah untuk menemukan kembali barang yang telah hilang, apalagi jika hilang di jalanan. Maka berdasarkan pengalaman itu pula, saya mencoba untuk merelakannya.

Jika musibah ini Allah berikan sebagai pengganti atas sedekah yang sempat terlupakan, maka sungguh.. saya ikhlas menerimanya..

Mungkin Tuhan ingin “membersihkan” darah saya dari hak orang lain yang tanpa sengaja ‘termakan’ oleh saya.

Mungkin cobaan ini adalah cara Allah mengingatkan agar saya bertaubat atas semua dosa yang telah saya lakukan selama ini.

Atau mungkin Tuhan telah menyiapkan “kejutan” manis sebagai pengganti lara yang saat ini sedang saya alami..
Yah..tidak ada yang tahu rencana Tuhan atas apa yang akan terjadi kepada kita.

Yang jelas, saya meyakini bahwa setiap musibah yang kita alami adalah “akibat” dari “sebab” yang kita ciptakan sendiri.

Maka..bersabar, ikhlas dan berbaik sangka atas semua cobaan yang Allah berikan saat ini adalah langkah terbaik yang bisa menenangkan hati..

Maka.. siapa yang menyangka jika tindakan iseng saya beberapa bulan yang lalu untuk menyimpan data-data penting di Cloud Storage, melalui email, dropbox, blog, maupun hosting gratisan, merupakan petunjuk Allah yang menuntun langkah saya menghadapi cobaan ini.

Sehingga meskipun laptop saya hilang, namun..saya tidak benar-benar kehilangan data penting yang saya butuhkan.

Siapa pula yang menduga, bahwa Laptop Acer Aspire S3 yang telah saya terima dari Acer Guraru Award 2012, dan Tas ransel Palazzo, hadiah dari sekolah SMKN 3 Jombang, adalah hadiah cantik yang disiapkan oleh Allah jauh hari, karena Dia tidak ingin melihat saya bersedih saat mengalami cobaan ini.

acer-guraru

Sungguh..betapa Allah benar-benar menyayangi saya.. sehingga meski hampir sebagian besar barang dan data hilang, namun saya tetap bisa move on.. melakukan semua aktivitas dan hobby tanpa berkurang sedikitpun. Saya percaya bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan. Semua telah ditetapkan oleh-Nya. Dan tidak ada yang mampu menghitungnya. Sebagaimana saya tidak mampu menghitung betapa besar Allah telah memberikan kesabaran dan keikhlasan yang tidak mampu saya bayangkan sebelumnya.

Maka mengambil hikmah dan berbaik sangka kepada Allah atas semua ujian yang diberikan adalah langkah yang terbaik agar saya selalu bersyukur atas segala nikmat dan petunjuk yang telah diberikan-Nya.

Dan kini..semua telah terlewati.. Tidak ada yang sulit, jika Allah berkehendak mengembalikan semuanya kepada saya. Sebagaimana tidak ada yang bisa menghalangi, ketika Allah berkehendak mengambil kembali apa yang telah dititipkan kepada kita.

Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun..