Apakah anda pernah menonton Film Action barat dengan dubbing-an bahasa Jawa (suroboyoan) ?
Jika anda ingin melihat film-film barat dengan dubbing bahasa jawa, anda bisa pergi ke daerah Jawa Timur.  Ada sebuah stasiun TV yang menayangkan hampir 75% acaranya menggunakan Bahasa Jawa.
Yah, dialah Jawa Televisi atau biasa disebut JTV.

JTV adalah stasiun televisi swasta di Kota Surabaya, Jawa Timur dan merupakan televisi swasta regional pertama di Indonesia. Jangkauan JTV meliputi hampir seluruh provinsi Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Sehingga dari kota Jombang, tempat saya tinggalpun, channel ini masih bisa saya nikmati, meski terkadang gambarnya banyak nyamuknya…(terutama kalau habis hujan..he..he..).

Salah satu yang membuat TV ini berbeda dari Channel yang lain, adalah kekonsistenannya dalam mengadaptasikan Bahasa Jawa yang merupakan bahasa keseharian masyarakat Jawa Timur, pada hampir sebagian besar program-programnya, termasuk acara berita, dialog, dan sinetron. Bahkan sejumlah film asing pun di-dubbing ke dalam Boso Suroboyoan.

Berikut adalah salah satu contoh aksi pesulap asing yang didubbing menggunakan bahasa Jawa :

http://www.youtube.com/watch?v=VXhKvudLR58&list=UUqIOf7RJokKcRsreMWAvUgg&index=4&feature=plcp

Dan, bagi orang Luar jawa yang ingin belajar bahasa Jawa juga bisa menikmati Program Kamus Suroboyoan, untuk memperkaya kosa kata bahasa Jawa anda. Berikut cuplikannya:

http://www.youtube.com/watch?v=FUjGSIc7KYo

Nah, Dari semua program JTV yang menggunakan bahasa Jawa tersebut,  ada satu Program (acara) yang saya sangat tertarik dan merasa bangga sebagai warga Jawa timur ketika menontonnya. Yah.. Dialah Warung VOA!!!

Warung VOA merupakan program televisi VOA  bekerjasama dengan JTV, yang meliput tentang topik sosial dan budaya di Amerika lewat kacamata perantau Indonesia ataupun warga AS sendiri. Dan lagi-lagi, program ini disajikan dalam bahasa Jawa (suroboyoan). Sangat berbeda dengan Program VOA lain yang biasanya, para reporternya mengunakan bahasa Inggris atau bahasa indonesia sebagai bahasa pengantarnya. Acara ini ditayangkan di JTV setiap hari Minggu jam 17:30-18:00 WIB.

Nih dia salah satu acara Reportase Warung VOA kesukaan saya. Kali ini Cak Supri (reporter Warung VOA) mengajak para penonton untuk melihat sekaligus menikmati salah satu kegiatan Wisata yang tidak banyak dilakukan oleh pelancong di Amerika. Yaitu Wisata Sampah. Let’s check this video out!

http://www.youtube.com/watch?v=5SDgEMwVCNI

Yah, Ternyata tidak semua wisatawan yang datang ke Amerika, hanya untuk menikmati tempat wisata yang indah, banyak pula wisatawan yang memiliki selera wisata yang unik  dengan melakukan kunjungan ke tempat sampah atau Wisata Sampah.

Mereka adalah para penganut gaya hidup ” anti-consumerism” yang biasa disebut Dumpster diving (Freegans). Mereka memungut sampah makanan yang masih segar, untuk kemudian dikumpulkan, bahkan tidak jarang pula langsung mereka makan.

Apakah anda percaya bahwa gambar berikut adalah koleksi makanan para Freegans yang dipungut dari Tempat sampah ??

Maka begitulah kenyataannya…

Tahukah anda bahwa di Amerika, sebuah toko membuang sekitar 20-30% dari makanan persediaan mereka. Jadi bisa diperkirakan, sekitar $30 Miliar makanan dibuang dan menjadi sampah. Padahal jika kita sadar, dengan jumlah sebesar ini kita bisa memberi makan orang yang kelaparan hampir di seluruh dunia (sumber : oprah.com).

Hmm…Saya sendiri tidak yakin, apakah saya berani melakukan wisata ini (menyelam ke tempat sampah) jika berada di Amerika 🙂 Namun setidaknya saya menjadi sadar betapa saya tidak boleh membeli sesuatu lebih dari yang saya butuhkan, disaat masih banyak saudara-saudara kita yang kelaparan dan membutuhkan banyak bantuan 🙁
Nah, Bagaimana dengan di Negara kita?? Pernahkah anda melihat makanan segar terbuang di tempat sampah/di pinggir jalan??
Saya yakin tidak. Bukan berarti, karena masyarakat kita adalah masyarakat “anti consumerism”, melainkan sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia, yang selalu menyimpan sisa makanan, untuk dibungkus kembali dan dibawa pulang..hhmmm
Atau, bisa juga karena memang kondisi tidak memberi kesempatan kepada “sampah makanan” itu untuk tinggal lama dijalanan, karena pasti akan ada para pemulung yang siap memungut dan menyantapnya.
Bukankah di negara kita, masih banyak masyarakat yang kelaparan, sehingga mereka harus memulung sampah-sampah makanan di jalanan, bahkan di tempat sampah ???
Terlepas dari itu semua, itulah aneka kondisi sosial dan budaya di Amerika yang bisa kita lihat, pelajari dan bandingkan dengan kondisi sosial di Indonesia.

Penyajian yang unik menggunakan bahasa Jawa oleh Warung VOA, membuat saya sadar kalau bahasa jawa (setidaknya) sudah mulai merangkak menjadi bahasa dunia (??). Atau Setidaknya untuk bahasa sehari-hari sebagian masyarakat indonesia yang ada di amrik.

Saat ini ada sekitar 16.000 orang Indonesia (mayoritas pelajar) yang akan menempuh pendidikan di Amerika (sumber  antaranews.com) . Kita bisa bayangkan, kalau saja dari 16.000 orang itu bisa berbahasa Jawa, mungkin kita (yang Bahasa Inggrisnya masih belepotan) tidak perlu kuatir untuk tidak bisa berkomunikasi dengan warga Amerika. Karena akan banyak masyarakat Indonesia (terutama Jawa) yang menggunakan Bahasa kita / Jawa sekaligus mengembangkan Budaya/tradisi kita di sana.

Hmm..Kapan yah..saya bisa ke Amerika???  **mimpi kali yee** 🙂