Agaknya langit sedang bersenang hati, menutup akhir tahun ini senyumnya yang cerah ceria, sehingga selama 3 hari ini, tak sedikitpun mendung tampak di langit Kota Jombang.

Saat inilah, waktu yang tepat untuk melanjutkan aktivitas kedinasan, seperti mencuci baju, menjemur kasur dan bantal, berbelanja ke pasar dan melakukan hampir semua rutinitas kerumahtanggaan yang sudah menjadi kodrat para ibu 😀 Legaa..rasanya jika semua telah terselesaikan.

Dan hari Jum’at ini, saya ingat telah berjanji kepada ibu saya, untuk mengantar beliau berziarah ke makam KH. Abdurrahman Wahid atau Gus dur. Maka, saya harus bergegas menyelesaikan semua tugas di atas supaya kami bisa berziarah ke makam sebelum pukul 10.00.

Begitulah, kami harus selalu mengagendakan terlebih dahulu waktu untuk berziarah ke makam Mantan Presiden RI ke-4 ini. Karena jika tidak, kami mungkin akan kesulitan masuk ke area makam, karena pengunjungnya yang selalu padat. Terlebih, hari-hari ini adalah moment Haulnya Gus Dur yang ke-4. Tentu makin banyak peziarah yang datang baik dari dalam maupun luar kota.

Dengan beriringan menaiki sepeda motor Beat’ut, kami- suami, saya dan ibu- menuju ke Tebuireng, Jombang, tempat di mana makam alm. Gus Dur ini berada.

Tak lebih dari 30 menit, kami pun sampai di tempat tujuan dan selanjutnya kami segera menuju makam. Syukurlah masih belum banyak pengunjung yang datang. Atau, setidaknya masih tersisa 3 tempat untuk kami membaca doa dan tahlil untuk alm. Gus Dur dan para alim ulama Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini.

Tak kurang dari 15 menit kami membaca doa, rombongan peziarah tampak berdatangan menuju makam. Di tempat ini, kami (peziarah) memang harus tahu diri untuk tidak berlama-lama duduk di area makam, karena kami harus berbagi tempat untuk peziarah lain yang datang silih berganti, yang kebanyakan mereka berasal dari luar kota.

Maka setelah memastikan bahwa semua doa telah terpanjatkan, kami pun beranjak dari area makam. Tak lupa kami mendokumentasikan moment ini sebagai kenang-kenangan. Dan suami saya..siap menjadi fotografernya 😀

Makam Gus dur, saat ini memang telah menjadi salah satu tujuan wisata religi para peziarah, di samping makam Sunan Wali Songo. Selain Gus Dur, terdapat dua tokoh besar yang juga dimakamkan di area ini, yaitu kakek Gus Dur yang juga pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari dan ayah Gus Dur yang merupakan mantan Menteri Agama pertama RI, KH Wahid Hasyim.?Ribuan peziarah dari penjuru nusantara, datang setiap harinya ke makam ini untuk mendoakan para alim ulama negeri ini.

Banyaknya peziarah, secara tidak langsung telah mengangkat perekonomian masyarakat di sekitar kompleks pemakaman. Lihat saja, di sepanjang pintu masuk area makam, para pedagang yang kebanyakan dari penduduk sekitar menjual pernak pernik/Asesoris bergambar Gus Dur dan oleh-oleh makanan khas Kota Jombang. Para pedangang ini menjual barang dagangannya dengan harga yang sangat murah. Berbeda dengan tempat wisata religi yang umumnya menjual dagangan mereka dengan harga yang agak mahal.

Saya sempat membeli dan ngobrol-ngobrol dengan salah satu pedangan asesoris (gelang, bros, kalung dst), yang menjual dagangannya Rp.5000/3 buah bros dan Rp. 5000/2 buah gelang seperti yang saya pakai ini. Saya tanyakan kepada mereka, kenapa menjual dagangannya dengan begitu murah? Dan inilah jawaban mereka, “kulo kuatir didukani Gur Dur, naliko nyadhe awis..”..he..he.. Tenyata Gus Dur-lah menjadi alasan mereka untuk tidak berjualan mahal.

Tak hanya berjualan, para penduduk di sini juga diuntungkan dengan banyaknya peziarah yang menginap di kompleks Pondok Pesantren, sehingga banyak penduduk yang menyewakan rumahnya (kost) sebagai tempat singgah sementara.

Yah.. Gur Dur memang luar biasa.. Bayangkan, saat beliau telah tiadapun, Allah tetap memberikan berkah dan rizki-Nya (bc. makan) kepada orang-orang yang mencintainya, melalui kharisma beliau.

Semoga kami dapat belajar dan mengambil hikmah dari wisata religi hari ini. Dan mudah-mudahan Allah menjadikan kita semua, orang yang selalu membawa manfaat bagi orang-orang di sekitar kita . Amin..

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia)